Minggu, 21 Juni 2015

ilmu jiwa umum


Istilah “Ilmu Jiwa” dan “Psycologi”.
Arti kata kedua istilah tersebut menurut isinya sebenarnya sama, sebab kata psychology itu mengandung kata psyche, yang dalam bahasa yunani berarti jiwa dan kata logos yang dapat diterjemahkan dengan kata “ilmu”, sehingga istilah “ilmu jiwa” itu merupakan terjemahan belaka dari pada istilah”psychology”. Walaupun demikian, namun kami pergunakan kedua istilah itu dengan berganti-ganti dan dengan kesadaran adanya perbedaan yang jelas dalam artinya. Ialah sebagai berikut:
  1. Ilmu jiwa itu merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang dikenal tiap-tiap orang, sehingga kamipun menggunakannya dalam artinya yang luas  dan telah lazim dipahami orang. Pengetahuan” suatu istilah yang “scientific”, sehingga kami mempergunakannya untuk menunujukan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu.
  2. Ilmu-jiwa kami gunakan dalam arti yang lebih luas dari pada istilah “psychology”. Ilmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, tetapi jugaa segala khayalan dan spekulasi mengenai jiwa itu. Psychology meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syaratnya psychology pada zaman sekarang ini.
Dengan demikian kiranya agak jelas, bahwa apa saja yang kami sebut ilmu-jiwa itu belum tentulah”psykhologi”, tetapi psykhologi itu senantiasa juga ilmu jiwa. Contoh: Apabila kita secara kita secara kebetulan mendapatkan kesan-kesan umum mengenai kecakapn dan sifat-sifat kepribadian seseorang, dalam hal itu kita sudah berkegiatan ilmu jiwa. Tetapi kegitan tersebut baru dapat kami sebut “psykhologis”, apabila cara-cara mengumpulkan keterangan mengenai kecakapan dan kepribadian orang itu, dilengkapi dengan metode-metode yang lebih obyektif, seperti dengan test-test yang sudah distandarisasi dan dengan wawancara-wawancara dan observasi-observasi yang teratur dan yang dilakukan dengan sengaja oleh orang yang terlatih
Kegiatan “psykhologi” itu merupakan kegiatan yang “baik”, ber”mutu”, “berhasil”, melawan kegiatan “ilmu jiwa” yang “interior”, kurang “bermutu”, tak dapat “dipercayai”.
Psykhologi zaman modern itu tidak dapat disamakan dengan ilmu jiwa, seperti yang dipelajari oleh Platoatau Aristoteles, dua orang filsuf termashur yang juga berilmu-jiwa. Psychologi dalam arti zaman moern itu bukan merupakan cabang dari ilmu filsafat seperti zaman yang lampau. Psychologi dalam arti itu juga bukan sendirinya merupakan ilmu “rohaniah” saja, sejajar dengan ilmu filsafat atau teologi, sebab pandangan demikian bukan lagi memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan modern pada zaman  sekarang. Disamping ilmu rohaniah psychologi merupakan juga suatu ilmu pengetahuan alam yang eksata , seperti juga biologi itu merupakan ilmu pengetahuan alam yang eksata.
Hal ini disebabkan oleh karena jiwa manusia seprti yang dipandang oleh psychologi  modern itu, bukan merupakan sesuatu yang “rohaniah” terlepas dari pada raga manusia yang “jasmaniah”, seperti pandangan zaman lampau. Pandangan terakhir ini bahwa jiwa adalah terlepas dari raga adalah pandangan ilmu jiwa zaman lampau yang  kolot. Menurut psychologi modern maka jiwa manusia itu bersama dengan raganya merupakan satu kesatuan jiwa raga yang tidak dapat dipisah-pisah. Kegiatan jiwa itu tampak juga kepada kegiatan raga. Istilah psychologi menunjukkan kepada ilmu pengetahuan yang sekaligus bercorak ilmu kerohanian, ilmu eksata, dan ilmu sosial zaman modern.
Hal ini disebabkan oleh krena jiwa manusia seperti yang dipandang oleh psychologi  modern itu, bukan merupakan sesuatu yang “ rohaniah” terlepas daripada raga manusia yang “jasmaniah” seperti pandangan zaman lampau. Pandangan terakhir ini bahwa jiwa adalah terlepas dari raga. Begitupun ilmu jiwa (psychologi) dalam artinya yang modern sebenarnya merupakan suatu ilmu jiwa-raga. Dan karena itu pula ilmu jiwa raga itu merupakan juga suatu ilmu-pengetahuan alam yang eksakta, sejajar dengan ilmu-pengetahuan biologi atau fisikologi.
Maka kiranya sudah agak jelas maksud kami dalam penggunaan istilah-istilah ilmu jiwa yang lebih luas dan istilah psychologi yang lebih terbatas itu. Istilah psychologi menunjukan kepada ilmu pengetahuan yang sekaligus bercorak ilmu rohaniah, ilmu eksakta dan ilmu sosial zaman modern.
2.      Sejarah Ilmu Jiwa.
Sebenarnya sejak berabad-abad lamanya manusia telah ber-“ilmu jiwa”, telah memikirkan dengan khusus apakah hakekat dari pada jiwa manusia dan jiwa makhluk lainnya. Pemikiran ini bersifat filsafah terutama dalam arti, mencari pengetahuan mengenai dasr-dasarnya dan hakekatnya jiwa itu. Corak pemikiran filsafah zaman lampau itu ialah “atomistis”, dalam arti bahwa jiwa manusia dianggap sebagai sesuat yang constant dan tidak berubah.
Pandangan ilmu  jiwa zaman lampau itu tidak hanya memisahkan jiwa dari pada raga, melainkan jiwa itupun dipisah-pisahkanyya menjadi “daya-daya tertentu yang bekerja tersendiri secara terbatas tanpa ada saling hubungannya yang dinamis antara yang satu dengan yang lain. Maka pandangan semacam ini disebujt pula pandangan “atomistis”. Yang hanya memperhatikan pecahan-pecahan dari pada jiw-manusia serta fungsi-fungsinya yang terbatas-batas, tanpa memperhatiakn saling hubungan serta dinamika ke dalam seluruh jiwa raga itu.
Pandangan atomistis itu yang tampak dengan jelas pada hasil pemikiran kaum filsuf-filsuf sejak Plato sampai kepada pertengahan abad ke-19, merupakan pandangan yang khas daripada ilmu jiwa zaman lampau, Yng sudah kolot itu. Pada akhir abad yang ke-19 ketika lahirnya aliran”experimental psychology” yang tidak hanya bersifilfiah saja mengenai gejala-gejala kejiwaan melainkan juga menelitinya secra empiris dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang seobyektif mungkin.
Maka dengan demikian dapatlah kita beda-bedakan dua bagian besar di dalam maninjau kepada sejarah perkembangan ilmu jiwa pada umumnya, ialah sejarah ilmujiwaketika masih bertaraf Cabang Ilmu Pengetahuan Filsafat, dan  sejarah ilmu jiwa ketika sudah menjadi Ilmu Pengetahuan Otonom dan berdiri sendiri seperti yang terjadi pada akhir abad  ke-19 itu. Mulai pada akhir abad ke-19, maka ilmu jiwa dapat disebut psychologi yang di dalam hal isi, maka ilmu jiwa dapat disebut psychologi yang di dalam hal isi, metode, dan penggunaannya sudah berbeda dengan taraf ilmu jiwa sebelumnya.
3.      Plato
Plato berpendapat bahwa jiwa manusia itu terbagi atas dua bagian, ialah jiwa rohaniah dan jiwa badaniah. Jiwa rohaniah berpokok pada ratio dan logika manusia, dan merupakan bagian jiwa  yang tertinggi, sebab tak pernah akan mati. JIwa badaniah itu dibagi ke dalam dua bagian lagi, ialah bagian jiwa dan disebutnya kemauan dan bagian yang kedua disebutnya nafsu perasaan. Kemauan itu adalah jiwa badaniah yang berusaha untuk mentaati ratio kecerdasan , sedangkan nafsu perasan merupakan jiwa badaniah yang senantiasa melawan ketentuan-ketentuan dari ratio kecerdasan manusia
4.      Aristoteles
Pendapat Aristoteles, (tahun 384-323 S.M.) baginya ilmu jiwa adalah ilmu mengenai gejala-gejala hidup. sehingga tiap-tiap makhluk hidup itu sebenarnya mempunyai jiwa.
Penemuan aristoteles yang kelak mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu jiwa perumusannya mengenai dalil-dalil asosiasi dalam ingatan orang. Menurut aristoteles maka dua atau lebih ingatan, mudah terasosiasi apabila ingatn-ingatan tersebut berdasarkan kejadian-kejadian yang dahulunya telah berlangsung:
  1. Pada waktu yang sama
  2. Dengan berurutan waktu
  3. Dengan persamaan artinya
  4. Dengan berlawanan artinya.
5.      Descaste
Menurut descaster maka manusia itu terdiri atas 2 macam zat yang berbeda secara hakiki,  ialah  res cogitans atau zat yang dapat berfikir dan res extensa atau zat yang mempunyai luas.
Menurut pendapat Descartes makailmu jiwa adalah pengetahuan mengenai gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran manusia, terlepas dari badanya. Hubungan jiwa raga adalah demikian erat , sehingga tekanan jiwa yang besar dapat mempengaruhi kesehatan badan penyakit yan psychogeen, dan sebaliknya.
6.       Jonh Locke
Jonh Locke berpendapat  bahwa :
  1. Semua pengetahuan, tanggapan dan perasaan jiwa manusia itu diperolehnya karena pengalaman melalui alat-alat indranya.
  2. Susunan gejala-gejala manusia menurut J. Locke itu pada akhirnya terdiri atas unsur-unsur pengalaman sederhana yang menggabungkan diri menjadi gejala jiwa yang lebih rumit seperti komplek-komplek perasaan , berteori yang sulit dll.
7.      David hume
Menurut hume terdapat pula unsure-unsur pengalaman lainnya ialah: impression (rasa), dan ideas (ingatan), sehingga kelangsungan-kelangsunagn di dalam jiwa orang itu dapat diuraikan ke dalam dasar unsure-unsurnya sebanyak 4 buah itu . ialah:
1.      Impression of sensations
2.      Impression of refrections
3.      Ideas of sensations
4.      Ideas of refrections,
Menurut hume terdapatlah tiga dalil asosiasi .ialah:
1.      Asosiasi karena berdekatan dalam waktu dan ruang
2.      Asosiasi karena persamaan artiasosiasi karena sebab akibat
8.      Wilhelm wundt
Bahwa gejala kejiwaan itu mempunayi sifat-sifat atau dalil-dalil yang khas dan yang harus diselidiki oleh sarjana ilmu jiwa secara khas, mendirikan suatu laboratorium psychology pertama, yang menjadi pusat penelitian psychology secara experimentil. “ bewusztsinspychologie”, atau gejal-gejala  psychis yang berlangsung di dalam jiwa yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai gejala-gejala kesadaran manusia.
9.      Sigmund Freud
Bahwa pergolakan jiwa manusia itu tidak hanya melibatkan kelangsungan yang sadar bagi diri orang yang bersangkutan, melainkan juga melibatkan pergolakan yang tidak sadar atau bawah sadar pada diri orang tersebut. Menurut freud terdapatlah tiga golongan gejala-gejala jiwa yang membuktikan adanya dinamika daripada alam taksadar itu. Ialah :
1.      Gejala-gejala tingkah-laku keliru
2.      Gejala-gejala mimpi
3.      Gejala-gejala neurose
10.  Szondi
Szondi, seorang Hungaria yang gidup di Swiss, merupakan penemu dari alam tak sadar kekeluargaan atau “das familiaere Unbewusste”. Alam tak sadar keluarga itu merupakan sesuatu yang dimiliki oleh sekeluarga serta turunan-turunannya. Menurut Szondi, alam-tak-sadar-keluarga ini turut menentukan nasib riwayat kehidupan anggota-anggota keluarga yang bersangkutan, oleh karena alam tak sadar ini mempengaruhinya dalam hal memilih kawan-kawan sekelompok. Memilih pendidikan lanjutan, memilih jabatan, memilih jodoh dengan kata pendek, alam tak sadar-keluarga ini mempengaruhi, semua pilihan-pilihan yang menentukan jalan riwayat kehidupan orang.
11.  Carl C. Jung
Menurut Jung disamping adanya alam-tak-sadar individual (Freud) dan alam-tak-sadar keluarga (Szondi) terdapat pula semacam alam-tak-sadar kollektif yang lebih umum dan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat, bangsa atau umat manusia.
12.   Ruang Lingkup Psikologi
Sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari penghayatan dan tingkah laku manusia, lingkup kajian psikologi memiliki ruang yang luas mencakup semua bentuk tingkah laku manusia. Secara sistematis lingkup kajian psikologi dapat diklarifikasikan sebagai berikut :
1.      Psikologi Umum
Psikologi umum adalah suatu ilmu yang mengambil lingkup kajian pada penghayatan dan tingkah laku individu secara umum, artinya mencakup semua tingkatan usia semua jenis kelamin, kelompok, suku bangsa, ras, dan semua fase perkembangan psikologis manusia.
 Macam-macam psikologi umum :
a)      Psikologi perkembangan
Psikolgi yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua yang mencakuo psikologi anak, psikologi puber atau adolesensi ( psikologi pemuda ), psikologi orang dewasa, psikologi orang tua.
b)      Psikologi sosial
Psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi sosial.
c)      Psikologi pendidikan
Psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagainya.
d)      Psikologi kepribadian dan tipologi
Psikologi yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai tipe-tipe kepribadian manusia.
e)      Psikopatologi
Psikologi yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak norman atau abnormal
f)       Psikologi Kriminil
Psikologi yang khusus berhubungan dengan soal-soal kejahatan atau kriminalitas.
g)      Psikologi perusahaan
Psikologi yang khusus berhubungan dengan soal-soal perusahaan
2.       Psikologi Khusus
Psikologi khusus adalah suatu cabang psikologi yang mengambil fokus kajiannya pada tingkah laku individu dalam suatu situasi yang khusus, baik untuk tujuan teoristis maupun praktik. Ia dapat dibagi menjadi dua bagian, antara lain :
a.      Psikologi Teoristis : yaitu kajian psikologi yang diarahkan pada pengembangan dan penemuan teori baru, baik teori yang berhubungan dengan persooalan tingkah laku secara umum, maupun untuk kasus-kasus khusus.
b.      Psikologi praktis : sesuai dengan namanya kajian psikologi praktis diarahkan untuk kepentingan-kepentingan lapangan secara praktis. Maka dari itu psikologi praktis dibagi menjadi beberapa golongan. Secara sistematik yang tergolong psikologi praktis adalah :
1.      Psikologi Perkembangan : dengan fokus pada tingkah laku individu dalam proses perkembangannya. Dalam hal ini fase-fase perkembangan individu diperhatikan secara khusus dan akhirnya menjadiakan psikologi perkembangan mengklasisifikasikan dirinya dalam tiga spesifikasi khusus antara lain : psikologi perkembangan anak, psikologi dewasa, dan pskologi lanjut.
2.      Psikologi Pendidikan : dengan fokus pada mempelajari tingkah laku individu dalam sebuah proses pendidikan.
3.      Psikologi Kepribadian : dengan fokus pada masalah-masalah kepribadian.
4.      Psikologi Kriminal : dengan fokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan kejahatan-kejahatan.
5.      Psikologi Industri : dengan fokus mempelajari tingkah laku individu dengan situasi lapangan industri.
6.      Psikologi Differensial : dengan fokus pada mempelajari perbedaan-perbedaan-perbedaan bentuk tingkah laku dalam berbagai macam aspek.
7.      Psikologi Komparatif : dengan fokus mempelajari perbandingan tingkah laku manusia dengan tingkah laku hewan atau binatang.
8.      Psikologi Abnormal : dengan fokus mempelajari tingkah laku seseorang yang tergolong kepada kelompok abnormal.
9.      Psikologi Sosial : dengan fokus mempelajari kegiatan-kegiatan tingkah laku yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial atau interaksi sosial diantara sesama manusia dalam menghasilkan kebudayaan.
10.  Psikologi Pastoral : dengan fokus mempelajari cara-cara pengikut suatu agama serta menyakinkan pengkutnya kepada ajaran-ajaran agamanya. Umumnya ilmu ini dipelajari oleh pemimpin-pemimpin agama seperti, para pastor dan ulama’.
11.  Psikologi Klinis (pengobatan) : dengan fokus mempelajari gejala-gejala kejiwaan yang berhubungan dengan penyembuhan penyakit.
12.  Psikoterapi : dengan fokus mempelajari tata cara pengobatan cacat-cacat jiwa dengan berbagai metode, misalnya : hypnose, psikoanalisa atau ungkapan-ungkapan jiwa dan cara lainnya, termasuk dalam psikologi klinis.
13.  Psikoteknik : dengan fokus mempelajari tata cara menetapkan pribadi seseorang (individu) dan kecakaannya uantk memegang jabatan tertentu.
13.  Obyekdari pada psychology
Obyek daripada ilmu jiwa modern ialah manusia serta kegiatan-kegiatannya dalam hubungannya dengan lingkungannya.  Tiga segi utama dari pada manusia itu , ialah manusia secara hakiki sekaligus merupakan
a.       manusia makhluk individu
Manusia adalah makhluk individual”. Berarti tidak dapat  dibagi-bagikan , makhluk yang tidak dapat dibagi-bagikan. (in-dividere).
Baruslah psychologi zaman modern inilah menegaskan bahwa kegiatan jiwa manusia dalam kehidupan sehari-harinya itu merupakan kegiatan keseluruhan jiwaranganya, dan bukan kegiatan alat-alat tubuh saja atau kemampuan-kemampuan jiwa satu persatu terlepas daripada yang lain.
b.      manusia adalah makhluk sosial
Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa mnusia secara hakiki merupakan makhluk sosial .Sejak ia dilahirkan ia membutuhkan pergaulan dengan orang-orang lani untul memenuhi kebutuhan –kebutuhan biologisnya , makan, dan minum dan lain-lainnya.
Pada dasarnya peribadi manusia tak sanggup hidup seorang diri tampa lingkungan pasychis atau rohaniahnya walapun secara biologis- fisiologis ia mugkin dapat mempertahankan pada kehidupan vegetatif.
c.       manusia sebagai makhluk berke-Tuhanan.
Sebab Bagi-bagi tiap manusia , terutama di Indonesia, yang sudah jelas bahwa sulit sekali untuk menolak adanya kepercayaan akan tuhan , sebagai segi hakiki dalam perikehidupan manusia, dan bahwa segi ini adalah segi khas bagi manusia pada umumnya.
Walaupun begitu secara psychologis dapat diakui bahwa segi manusia mahluk berke-tuhanan itu dapat pula dengan sadar atau tidak sadar ditunjukan dan digerakan oleh sesuatu obyek yang bukan merupakan Tuhan Yang Maha Esa, pencipta seluruh univerrsum itu, universum yang tak terhingga dan yang menurut ahli-ahli ilmu alam sekrang-kurangnya berumur 2000 juta tahun lagi.


BAB II
MOTIF DAN ATTITUDE
1)      Motif Manusia
Motif itu merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak,alsan-alsan atau dorongan-dorongan dalam dirinya manusia yang menyebbkan ia berbuat sesuatu, motif manusia merupakan dorongan, keinginan , hasrat, dan tenaga pengerak lainnya yang berasal dari dalam dirinya, untuk melakukan sesuatu.
2)      Motif tunggal , motif bergabung
Motif kegiatan seperti mendengar warta berita RRI, karena berkaitan dengan pekerjaan kantor kita, itu semua merupakn motif tunggal atau bergabung. Tetapi jelaslah bahwa motif manusia itu mempunyai peranan besar sekali  dalam kegiatan dan merupakan latar belakang tindak-tanduknya, sehingga merupakan pokok khuus dari pada ilmu pengetahuan psychology.
3)      Motif biogenetis
Merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan organism orang demi kelanjutan kehidupannya secara biologis.contohnya, lapar,haus, istirahat bernafas dsb.
4)      Motif sosiogenetis
Motif motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan di mana orang itu dipelajari orang dan beasal dari lingkungan kebudayan di mana orang itu berada dan berkembang.
5)      Motif teogenetis
Motif motif manusia yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Ialah motif motif yang theogenetis
6)      Attitude
Merupakan sikap terhadap obyek tertentu , yang dapat merupakan sikap pandanfan atau sikap perasaan, tetapi sikap mana disertai oleh kecendrungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tadi.
Attitude itu mungkin terarahkan terhadap benda-benda, orang –orang tetapi juga terhadap peristiwa, pemandangan lembaga, norma nilai, dan lain.lain.
7)       Attitude sosial/individual
Attitude individual berbeda dengan attitude sosial, ialah:
a.      Bahwa attitude individual dimiliki seorang demi seorang saja , misalnya kesukaan terhadap binatang- binatang tertentu.
b.      Bahwa attitude sosial berkenaan dengan obuek-obyek yang bukan merupakan obyek perhatian sosial.
8)      Ciri attitude
  1. Attitude bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan, melainkan dibentuk atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang itu, dalam hubungannya dengan obyeknya.
  2. Attitude itu dapat berubah-ubah, oleh karena itu attitude dapat dipelajari oleh orang, atau sebaliknya, attitude itu dapat berubah pada orang –orang bila terdapat keadaan  dan syart-syarat tertentu yang mempermudah berubahnya attitude pada orang itu.
  3. Attitude itu tidak berdiri sendiri melainkan senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap suatu obyek.
  4. Obyek attitude itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga meru[pakan kumpulan dari hal hal tersebut. Jadi attitude itu dapat berkenaan dengan satu obuek saja tetapi juga berkenaandengan sederetan obyek-obyek yang serupa.
  5. Attitude mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inulah yang membedakan attitude daripada kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki orang.
9)      Memahami attitude
Untuk dapat memahami attitude terdapat beberapa metode –metode ialah metode langsung. Ialah metode dimana orang itu secara langsung diminta pendapat atau anggapannya mengenai obyek tertentu. Nyatanya bahwa attitude seseorang sesungguhnya tidak mudah diketahui denagn begitu saja melainkanterdapatlah metode tertentu unutk memahaminya, masingnya denagn kebaikan dan kekurangannya.
10)  Pembentukan dan perubahan attitude
Pembentukan attitude tidak terjadi dengan sendirinya atau denagn sembarangan saja. Pembentukannya senantiasa berlangsung dalan interaksi manusia dan berkenaan dengan obyek tertentu. Interaksi sosial di dalam kelompok maupun di luar kelompok dapat merubah attitude atau membentuk attitude  yang baru.
11)  Mengenai faktor extern
Mengenai faktor extern , maka pada garis-garis besarnya, attitude dapat dibentuk atau diubah.
  1. Dalm interaksi kelompok, di mana terdapat hubungan timbale balik yang langsung antara manusia.
  2. Karena komunikasi , di mana terdapat pengaruh-pengaruh( hubungan) langsung dari satu puhak saja.
12)  Interaksi kelompok. .
Kelompok keluarga menjadi kelompok pegangan hidupnya di mana ia merasa adanya hubungan bathin, karena norma-norma dan nilai-nilai kehidupan serta attitude terhadapnya bermacam-macam hal adalh sesuai sengan diri pribadinya. ( kelompok keluarga dalam arti reference-group).
13)   Shiting of reference-groups
  1. Ia menetap kepada norma dan attitude kehidupan daripada kelompok keluarganya
  2. Ia melepaskan norma dan attitude reference gropunya itu dan menyesuaikan dirinya dengan norma dan attitude dari membership groupnya.
14)  Kesimpulan umum
1.      Sumber penerangan itu memperoleh kepercayaan orang banyak
  1. Orang banyak belum mengentahui benar atau ragu-ragu tentang idi dan fakta attitude baru
  2. Attitude yang di bentukitu tidak terlampau jauh isinya dari pada “frame of reference” daripada lingkungan sosial tempat orang banyak. Itu hidup
  3. “two-sided” argument lebih bertahan kepada counter-counter propaganda daripada”one side” argument.
15)  Prasangka sosial.
Perasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan rasa tau kebudayaan, yang beralinan dengan  dengan golongan orang yang berperasangka itu.
16)  Cirri pribadi orang berprasangka.
Menurut beberapa penyelidikan psychologi terdapatlah beberapa cirri pribadi orang yang mempermudah terbentuknya prasangka sosial padanya anatra pada orang orang yang berciri  tidaktoleran , kurang mengenal akan dirinya sendiri. Kurang berdaya cipta, tidak rasa aman memupuk khaylan-khayaln yang agresf dll.


Sumber: http://cewek-optimis.blogspot.com/2013/11/makalah-ilmu-jiwa-umum.html