Minggu, 27 Desember 2015

Nilai tertinggi di imtihan Nadwah


Biar sederhana wajib bangga donk!

Imtihan Nadwah telah selesai dilaksanakan. sebanyak 20 lebih peserta nadwah yang mengikuti. Dan setelah diperiksa maka diperoleh 3 orang peserta dengan nilai terbaik. Siapakah mereka?.

1. Firman dari semester 3, dengan nilai nyaris sempurna yaitu 99

2. Khairunnisai dari semester 1 Rombel B, dengan nilai 95

3.

Semoga yang lain bisa lebih baik lagi,...

Jumat, 25 Desember 2015

Presentase Kehadiran Mahasiswa Prodi PBA Pada Kegiatan Nadwah

click gambar untuk perbesar
          Kegiatan Nadwah di Prodi PBA telah selesai pada tahap awal, yakni 6 kali pertemuan. Namun tahukah anda bahwa pada tahap tersebut ada hal yang patut kita beri penghargaan. Entah itu penghargaan sederhana ataupun penghargaan yang setinggi-tingginya. Yaitu bagi mereka dari mahasiswa yang paling rajin menghadiri kegiatan Nadwah atau  mungkin semester yang paling banyak jumlah kehadirannya.


         Dari gambar di atas, dapat kita lihat bahwa semester 1 (satu) memgang peranan penting dalam kegiatan nadwah ini.  Diagram tersebut juga  dapat memberikan kita informasi bahwa ternyata jumlah kehadiran peserta nadwah semakin hari semakin berkurang. 

Oleh karena itu, semoga kedepannya kegiatan kita ini kembali berkembang dan kembali dikenal oleh orang banyak.

Sekian, Wassalam

Senin, 07 Desember 2015

Video yang membuat semangat berbahasa arab jadi tinggi

          Video berikut ini diambil oleh salah satu siaran TV Timur Tengah dengan objek gambarnya yakni salah satu Universitas di Korea Selatan atau yang sering kita sebut Kor-Sel. 

          Video berdurasi 3 menit 17 detik ini tentu saja membuat kita (para pecinta bahasa Arab) khususnya bagi Mahasiswa PBA STAIN Parepare berdecak kagum dan semakin menambah semangat untuk lebih giat belajar bercakap bahasa Arab.
         Betapa tidak, Negara yang bukan mayoritas Islam ini ternyata juga mempelajari bahasa Arab dan bukan hanya 1 Universitas di negara tersebut yang mempelajarinya. Dari video tersebut dinyatakan bahwa ada sekitar 60 Universitas di Kor-Sel yang mempelajari bahasa Arab.

          Dari video ini pula kita dapat melihat dan mendengar dengan jelas betapa mereka mampu bercakap bahasa Arab dengan sangat lancar dan cukup fasih mulai dari Dosen hingga Mahasiswanya. Bahkan bahasa ini disukai oleh mahasiswa tersebut yang tentu saja mereka bukan keluaran Madrasah apalagi Pondok Pesantren. Sehingga membuat kita jadi penasaran metode yang digunakan pengajar  di Universitas tersebut dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya membuat para mahasiswanya jago bercakap bahasa Arab. 
Berikut Videonya untuk anda semoga bermanfaat:

Senin, 30 November 2015

Video Koleksi PBA

Minggu, 29 November 2015

فضيلة العلماء "Keutamaan Orang Berilmu"

فَضِيْلَةُ الْعُلَمَاءِ
السَّلاَم عليكم ورحمة الله وبركاته. الحمد لله رب العلمين الذي جعل بن آدم بالعلم والعمل وعلى اله زوالهداية والأوتار. والصلاة والسلام على اشرف الأنبياء والمرسلين  سيدنا و شفيعنا و حبيبنا و مولانا محمد صلى الله عليه وسلم.

معا شرالمسلمين و المسلمات والحاضرين والحاضرات رحمكم الله
شُكْرًا إلى رئيس البرنماج الذي اتاحلي فُرْصَةً لأتكلم قليا أمامكم جميعا ولذلك اقول لكم اهلا و سهلا ومرحبا بحضوركم في هذا المكان المبارك.
اَوَّلاً، هَيَّا بِنَا نَشْكُرُ اللهَ عز وجلا جزيل الشكر لأنه قد اَعْطَانَا نِعْمَةً كَثِيْرة، وفرصة ثمينة، وصحة عافية حَتَّى نَسْتَطِيْعَ اَنْ نَجْتَمِعَ و نتوجه في هذا المكان  المبارك ولاسيما نستطيع ان نتبع في هذه المسابقة المكرمة. ثانيا، صلاة وسلاما إلى نبينا محمد صلى الله عليه وسلم... هو الذي قد أخرج الناس من الظلمات إلى النور.
أَيُّهَا الْإِخْوَاة وَالأخْوَاتُ إِسْمَحُوْلِيْ اَنْ اتكلم قليلا عَنْ فضيلة العلماء اَمَامَكُمْ جَمِيْعًا.
إِنَّ للعلماء فضيلاتٌ، و خمسة منها:
يرفع الله درجاتهم، ثم سلك الله له طريقا إلى الجنة، يحرسه العلم،و يخشى إلى الله.
إخوان المسلمين، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  في حديثه الشريف: "طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة” (رواه ابن البر) .
ايها الحاضرون والحاضرات رحمكم الله، هذا الحديث يدل على معنى انّ كل مسلمين و مسلمات، من الرجال او من النساء، من الغنيين او من الفقراء يجب عليهم ان يطلبوا العلم.
ايها حاضرون...
ثم لقد عرفنا جميعا في القرآن الكريم، في سورة الزمر الآية 9،
هذه الآية يدل على معنى ان العلماء وليس العلماء هناك فرق ،الإنسان الذين يعلمون والذين لايعلمون غير متساويين في العقل. ولذلك ايها الإخواة و الأخوات المسلمون حي نطلب العلوم الكثير.
و قد بيَّن رسول الله صلى الله عليه وسلم في حديثه الآخر، مَنْ سَلَكَ طَريقا إلى العلم سهل الله له طريقا إلى الجنة (رواه البخاري).
ايها المسلمون، أهذا الحديث لم يخبر علينا انّ طريقا إلى الجنة مفتوح لطالب العلم.
ايها المسلمون رحمكم الله،
وقال سيدنا علي رضي الله عنه "العلم يحرسك، وانت تحرس المال ثم العلم يزكوا بالإنفاق والمال ينقص بالنفقة.
في هذا الحديث بيَّن علينا علي رضي الله عنه انّ العلم مهمة جدا في حياتنا. ان العلم حارس لأهله.
إخوان المسلمين... بجانب ذلك، العلماء يخشى إلى الله، كما قال الله تعالى في كتابه الكريم، في سورة فاطر الآية 28 :

ايها الحاضرون و الحاضرات.

هكذا مااستطعت لأبلغكم الآن. فلذلك حي نطلب العلوم الكثيرة منذ الآن، كما قال الحديث الشريف "أطلب العلم من المهد إلى الـلهد". يجب علينا ان نطالب العلم طول الزمان، لأن العلم مهم في حياتنا. شكرا على حسن إهتمامكم وحسن إستماعكم. لو وجدتم خاطئا في كلامي، اطلب منكم العفو الكثير. لأن الإنسان مـحل الخطاء. 

WUJUDKAN TAQWA DENGAN TINDAKAN NYATA BUKAN HANYA SEKADAR SEMBOYAN SEMATA (Khutbah Jumat)


WUJUDKAN TAQWA DENGAN TINDAKAN NYATA
BUKAN HANYA SEKADAR SEMBOYAN SEMATA


(Oleh: DRS. H. IRFAN ANSHORY)

As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.
Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.
Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah.
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii wa shahbihii wa man waalah.
`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Segala puji dan puja kita panjatkan ke hadirat Allah SWT semata-mata, satu-satuNya Dzat tempat kita mengabdi dan tempat kita berserah diri. Shalawat dan Salam, kesejahteraan dan kedamaian, semoga dilimpahkan Allah kepada Pemimpin Besar kita, Nabi Muhammad Rasulullah SAW, serta para keluarga dan shahabat beliau yang setia. Melalui pribadi yang mulia Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Terakhir, sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama yang haqq dan sempurna untuk mengatur umat manusia, agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi, dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.
Setiap tanggal 1 Syawwal, umat Islam di seluruh dunia, yang kini berjumlah 1,5 miliar jiwa dan merupakan hampir seperempat penduduk planet Bumi, bergembira merayakan Festival Kemenangan atau Idul Fitri, setelah sebulan penuh berlatih dalam pengendalian diri. Selama bulan Ramadhan kita telah menunaikan ibadah puasa, menegakkan shalat tarawih, memperdalam kajian Al-Qur’an, memperbanyak infaq dan shadaqah, serta amalan lainnya yang diperintahkan agama. Mudah-mudahan Allah SWT menerima segala aktivitas Ramadhan kita sebagai amal shaleh yang menambah neraca kebajikan kita pada Hari Perhitungan di akhirat nanti. Taqabbala l-Laahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.
Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah puasa yang telah kita laksanakan merupakan ibadah yang sangat personal. Pujangga termasyhur dari Pakistan, Muhammad Iqbal, melukiskan hubungan seseorang yang berpuasa dengan Sang Pencipta sebagai hubungan antara “Aku-dan-Engkau”, sebab ibadah puasa tidak dapat dipamerkan kepada orang lain. Yang mengetahui bahwa kita berpuasa hanyalah diri kita sendiri beserta Allah, tidak ada pihak ketiga. Dengan menghayati ibadah puasa, seorang makhluq merasakan kedekatan atau suasana akrab dengan Khaliqnya, sesuai dengan firman Allah yang berkaitan dengan kewajiban puasa, dalam Surat al-Baqarah ayat 186: Wa idzaa sa’alaka `ibaadii `annii fa innii qariib. Ujiibu da`wata d-daa`i idzaa da`aan. Falyastajiibuu lii walyu’minuu bii la`allahum yarsyuduun (“Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Akan Kukabulkan permohonan orang yang mendo’a tatkala ia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka merespons panggilan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran selalu.”)
Setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan, mudah-mudahan kita dapat memetik buah yang lezat dari ibadah shaum tersebut, dengan senantiasa menyadari kemahahadiran Allah dalam setiap gerak langkah dan aktivitas kita sehari-hari. Kita senantiasa menghayati firman Allah dalam Surat al-Hadid ayat 4: Wa huwa ma`akum ainamaa kuntum. Wal-Laahu bimaa ta`maluuna bashiir (“Dia bersamamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Melihat terhadap yang kamu perbuat.”) Juga firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 115: Wa li l-Laahi l-masyriqu wa l-maghrib. Fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhu l-Laah. Inna l-Laaha waasi`un `aliim (“Kepunyaan Allah timur dan barat. Ke mana jua engkau berpaling, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas JangkauanNya serta Maha Mengetahui.”) Dengan demikian diharapkan kita selalu memelihara diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. Inilah tujuan akhir (the ultimate goal) dari ibadah puasa, la`allakum tattaquun, “agar kamu sekalian bertaqwa.”
Pribadi taqwa seperti inilah yang pantas untuk menjadi pemimpin, bahkan mengelola negara. Jika dia menjadi presiden, gubernur, bupati atau walikota, niscaya dia akan menggunakan kekuasaannya untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, dan sekali-kali tidaklah dia memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta kekayaan mumpung dia masih berkuasa, karena dia yakin bahwa kepemimpinannya itu tiada lain adalah amanat Ilahi yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pemberi Mandat, yaitu Allah`Aziizu l-Hakiim, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sebaliknya, jika pribadi yang bertaqwa ini hidup sebagai rakyat, maka dia akan taat dan patuh kepada pemimpin selama pemimpin itu menjalankan tugasnya di atas jalan yang diridhai Allah. Sekiranya dia melihat pemimpinnya menyeleweng atau keluar dari ajaran agama, maka dia tidak segan dan ragu untuk menegur dan memperingatkan pemimpinnya itu. Ternyata pribadi-pribadi bertaqwa seperti inilah yang mampu menjadi demokrat-demokrat sejati, karena mampu melihat manusia sebagai ‘manusia’. Dia tidak meninggikan seseorang sehingga mengkultuskannya, dan dia tidak merendahkan seseorang sehingga memperhambanya. Sikap hidup Ketuhanan Yang Maha Esa memancar dalam Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, atau dalam bahasa Al-Qur’an: hablun mina l-Laahi wa hablun mina n-naas.
Para hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Sebulan penuh lamanya kita menempuh latihan menahan diri, dengan tidak melakukan makan dan minum, serta tidak melakukan hubungan badani suami-istri, dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Menahan lapar dan dahaga dalam puasa sama sekali bukanlah untuk menghilangkan naluri yang ada pada makhluk hidup, yaitu nafsu makan dan minum, melainkan untuk menumbuhkan kemampuan pengendalian atas nafsu-nafsu tersebut. Inilah salah satu perbedaan manusia dengan hewan, sebab manusia berpotensi untuk mengendalikan nafsu sedangkan hewan tidak. Lebih penting lagi, pengendalian nafsu tersebut sangat penting untuk memelihara nilai-nilai dan norma-norma hidup bermasyarakat. Jika manusia tidak mampu mengendalikan nafsu makan dan minumnya, maka timbullah keinginan pemenuhan kebutuhan secara tidak wajar, sehingga muncul kejahatan-kejahatan yang sering kita saksikan: penipuan, pencurian, perjudian, prostitusi, korupsi, dan sebagainya.
Demikian juga menahan diri dari kegiatan seksual, bukanlah untuk membunuh syahwat yang merupakan naluri manusia, melainkan menumbuhkan kemampuan pengendalian atas naluri seksual tersebut dan menempatkannya pada proporsi yang wajar. Tidak berlebih-lebihan seperti anggapan ahli psikoanalisis dari Austria, Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia dirangsang oleh nafsu seksual bawah-sadar. Tidak pula merendahkannya dengan menganggap nafsu seksual sebagai salah satu bentuk ketidaksucian seperti ajaran agama tertentu. Ajaran Islam justru menyalurkan naluri seksual melalui ikatan tali Allah berupa pernikahan, dengan tujuan mencapai ketenteraman rumah tangga serta menurunkan generasi yang shaleh.
Pengendalian hawa nafsu ini sangat erat hubungannya dengan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLA L-LAAH (Tiada ilah kecuali Allah) yang setiap saat kita ikrarkan dalam shalat. Janganlah kita terjerumus kepada kemusyrikan terselubung yang mungkin tidak kita sadari, sebagaimana diperingatkan Allah dalam Surat al-Furqan ayat 43: Ara’aita manittakhadza ilaahahuu hawaah? (“Apakah engkau memperhatikan bahwa banyak manusia yang mengambil hawa nafsunya menjadi ilahnya?”).
Dalam era modern dewasa ini, bentuk kemusyrikan yang tradisional, seperti menyembah patung, memandikan keris atau meminta berkah ke kuburan, hanya masih kita jumpai pada masyarakat yang tidak berpendidikan. Manusia modern tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan primitif semacam itu. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa manusia modern sudah terbebas dari bahaya syirik. Disadari atau tidak, pada zaman modern ini lebih banyak bermunculan “berhala-berhala” baru yang tidak kurang bahayanya dalam menjerumuskan umat manusia.
Di sekeliling kita bertebaran “Lata dan Uzza” dalam bentuk materi dan kedudukan, yang setiap saat merayu manusia supaya bertuhan kepadanya. Betapa banyak orang yang menjadikan tahta atau kedudukan sebagai ilahnya, sehingga dia rela berkorban dengan segala cara untuk mencapai atau mempertahankan kedudukannya. Betapa sering kita mendengar orang yang menumpuk harta kekayaan dengan tidak peduli apakah cara yang ditempuh halal atau haram. Mudah-mudahan ibadah shaum Ramadhan meningkatkan kemampuan kita dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga kita dapat memelihara kemurnian pengabdian kita kepada Allah SWT.
Semakin jelas bagi kita bahwa mengaplikasikan ikrar LAA ILAAHA ILLA L-LAAH tidaklah segampang mengucapkannya. Hal ini memerlukan latihan dan ujian. Memang benar ungkapan simbolis yang mengatakan bahwa titian Shiraath al-Mustaqiim itu sangat halus laksana “rambut dibelah tujuh.” Artinya melangkah pada jalan yang diridhai Allah itu tidaklah mudah, karena sepanjang hidup kita akan berdatangan ujian dan cobaan dari sekeliling kita. Marilah kita renungkan firman Allah dalam Surat al-Ankabut ayat 2–3: Ahasiba n-naasu ayyutrakuu ayyaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun. Wa laqad fatanna l-ladziina min qablihim falaya`lamanna l-Laahu l ladziina shadaquu walaya`lamanna l-kaadzibiin (“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan berkata ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Sungguh telah diuji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui mereka yang benar dan mereka yang dusta.”) Semoga Allah memasukkan kita kepada golongan yang disebutkan dalam Surat al-Ahqaf ayat 13-14: Inna l-ladziina qaaluu rabbuna l-Laahu tsumma staqaamuu fa laa khaufun `alaihim wa laa hum yahzanuun. Ulaa’ika ashhaabu l-jannati khaalidiina fihaa jazaa’am bimaa kaanuu ya`maluun (“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’, lalu mereka konsisten dengan pernyataan itu, maka tidaklah ada kecemasan dan kesusahan bagi mereka. Mereka itulah penghuni surga, kekal mereka di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”)
Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.
Para hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Hari ini kita merayakan “festival kesucian” atau Idul Fitri. Kata`id berarti “kembali atau berulang”, satu akar kata dengan `adah, yang diindonesiakan menjadi adat, yaitu kebiasaan atau tradisi yang senantiasa terus berulang. Juga kata `id berarti “hari raya atau festival”. Dengan demikian,`id memiliki arti lengkap sebagai hari raya yang berulang secara periodik setiap tahun. Adapun kata fithri seakar dengan fithrah, yang berarti “sifat atau kejadian asal yang suci”. Menurut ajaran Islam, manusia terikat dalam suatu perjanjian primordial dengan Tuhan. Manusia sejak dari kehidupannya dalam alam ruhani dahulu telah berjanji untuk menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya.
Marilah kita perhatikan firman Allah dalam Surat al-A`raf ayat 172: Wa idz akhadza rabbuka mim banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum `alaa anfusihim ‘alastu birabbikum’, qaaluu ‘balaa syahidnaa’. An taquuluu yauma l-qiyaamati innaa kunnaa `an haadzaa ghaafiliin (“Ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari sulbi anak-anak Adam keturunan mereka, dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Ya, kami bersaksi’. Demikianlah agar kamu tidak berkata pada Hari Kiamat bahwa ketika itu kami lalai.”)
Dengan demikian, manusia dilahirkan ke dunia dalam kejadian asal yang suci (fithrah), dan diasumsikan bahwa dia akan tumbuh dalam kesucian itu seandainya tidak ada pengaruh lingkungannya. Firman Allah dalam Surat ar-Rum ayat 30: Fa aqim wajhaka li d-diini haniifaa. Fithrata l-Laahi l-latii fathara n-naasa `alaihaa. Laa tabdiila li khalqi l-Laah. Dzaalika d-diinu l-qayyim. Wa laakinna aktsara n-naasi laa ya`lamuun (“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama secara benar, menurut fitrah Allah yang atas itu pula Allah menciptakan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang baku, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.”) Juga Sabda Nabi SAW bahwa “setiap manusia dilahirkan dalam kesucian”. Kesucian asal itu bersemayam dalam hati nurani dan mendorong manusia untuk senantiasa mencari, berpihak dan berbuat yang baik dan benar.
Akan tetapi, meskipun dasarnya suci, manusia adalah makhluk yang lemah, mudah membuat kesalahan, sehingga tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak suci lagi. Manusia mudah tertarik kepada hal-hal yang sepintas lalu menawarkan kesenangan, padahal dalam jangka panjang membawa malapetaka. Itulah sebabnya dalam agama kita ada ritus-ritus penyucian diri, dan ibadah puasa merupakan ritus yang utama untuk membakar habis dosa-dosa kita. Bukanlah suatu kebetulan jika bulan yang baru saja kita lalui bernama Ramadhan, yang secara harfiah berarti “bulan pembakaran”.
Inti Idul Fitri adalah bersihnya kita dari segala dosa. Kesucian diri ini perlu terus kita pelihara dan tumbuhkan, karena pada hakikatnya proses penyucian diri ini merupakan jihad an-nafs, proses yang terus-menerus harus kita jalani sepanjang hidup. Betapa sulitnya proses ini sehingga Al-Qur’an menyebutnya sebagai al-`aqabah atau “jalan mendaki”. Sebagai langkah awal dalam menyongsong masa depan, pada hari raya Idul Fitri ini kita bermaaf-maafan satu sama lain, menghapus segala dosa dan permusuhan. Sebagai makhluk yang lemah, kita mungkin pernah tergelincir dalam kesalahan terhadap orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dalam pergaulan sehari-hari sering terjadi pertikaian ataupun kesalahfahaman antara sesama anggota masyarakat, bahkan sering terjadi perselisihan dalam satu keluarga, antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, antara kakak dan adik. Marilah kita jadikan hari 1 Syawal 1430 Hijri ini sebagai momentum untuk menghabisi perasaan dendam dan amarah yang mungkin tumbuh pada saat kita lalai dan terbawa oleh emosi. Menurut firman Allah dalam Ali Imran ayat 134, salah satu ciri orang bertaqwa adalah kaazhimiina l-ghaizha wa l-`aafiina `ani n-naas (“menahan amarah dan memaafkan manusia”). Marilah kita buka lembaran kehidupan yang baru, yang lebih akrab, yang bersih dari suasana pertikaian, sesuai dengan kesucian Idul Fitri.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Bagi kita bangsa Indonesia, bulan Ramadhan juga merupakan bulan proklamasi kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara kita pada hari Jum`at tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi. Kita secara tegas menyatakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa kemerdekaan bangsa dan negara kita semata-mata “atas berkat rahmat Allah”.
Suatu hal yang terlupa dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.
Sebagai contoh, Fatahillah dari Pasai menjadi panglima balatentara Demak, lalu mendirikan kota Jakarta. Ki Geding Suro dari Demak mendirikan Kesultanan Palembang. Syaikh Yusuf dari Makassar menjadi mufti Kesultanan Banten. Beberapa sultan Aceh adalah keturunan suku Melayu dan Bugis!
Masih banyak lagi contoh yang lain. Pada zaman pra-Islam hal ini belum pernah terjadi, sebab belum ada rasa persaudaraan antar suku. Itulah sebabnya mengapa di kota-kota seluruh Tatar Sunda ada Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung, tapi tidak kita jumpai Jalan Gajah Mada!
Berabad-abad sebelum lahir faham nasionalisme, rasa satu bangsa pertama kali ditanamkan oleh Islam. Perhatikan saja nama ulama-ulama termasyhur kita zaman dahulu: Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (Pansur), Syaikh Abdussamad al-Jawi al-Falimbani (Palembang), Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Arsyad al-Jawi al-Banjari (Banjar), Syaikh Syamsuddin al-Jawi as-Sumbawi (Sumbawa), Syaikh Yusuf al-Jawi al-Maqashshari (Makassar), Syaikh Abdulkamil al-Jawi at-Tiduri (Tidore). Semua mengaku Jawi (‘bangsa Jawa’), dari suku mana pun dia berasal. Berabad-abad sebelum istilah ‘Indonesia’ diciptakan oleh ahli geografi James Richardson Logan tahun 1850, nenek moyang kita menamakan diri ‘bangsa Jawa’, sebab orang Arab menyebut kepulauan kita Jaza’ir al-Jawa (Kepulauan Jawa). Sampai hari ini, jemaah haji kita masing sering dipanggil ‘Jawa’ oleh orang Arab. “Samathrah, Sundah, Sholibis, kulluh Jawi!” demikian kata seorang pedagang di Pasar Seng, Makkah. “Sumatera, Sunda, Sulawesi, semuanya Jawa!”
Sebelum Islam datang ke Indonesia, bahasa Melayu hanya dipakai di Sumatera. Bahasa Melayu baru tersebar di Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam. Para ulama, di samping menyebarkan agama Islam, juga menyebarkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sebagai huruf persatuan digunakan Huruf Arab-Melayu (Huruf Jawi), yang dilengkapi tanda-tanda bunyi yang tidak ada dalam huruf Arab aslinya. Huruf `ain diberi tiga titik menjadi nga; huruf nun diberi tiga titik menjadi nya; huruf jim diberi tiga titik menjadi ca; dan huruf kaf diberi satu titik menjadi ga. Alhasil, masyarakat dari Aceh sampai Ternate mampu berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama, dan hal ini belum pernah terjadi pada zaman Hindu-Buddha.
Dari seluruh data dan fakta yang telah kita bahas, jelas sekali betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.
Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan, maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian, sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya bersaudara.”
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.
Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering ma`shiyat kepada-Mu. Telah banyak Engkau penuhi kenikmatan hidup kami dengan kemurahan-Mu, namun kami sering ingkar dan tidak bersyukur kepada-Mu. Telah banyak Engkau tutupi aib dan kekurangan kami dengan kemuliaan-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, betapa beratnya siksa yang akan kami tanggung, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu.
Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu. Karena itu Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami, angkatlah bangsa kami Ya Allah dari jurang kehinaan, berilah kami pemimpin yang mampu membimbing kami ke arah kebaikan, dan tunjukkan bagi kami jalan keselamatan dunia dan akhirat agar kami tidak tersesat. Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami.
Allaahumma innaa nas’aluka l-`afwa wa l-`aafiyah, wa l-mu`aafaata d-daa’imah, fi d-diini wa d-dunyaa wa l-aakhirah, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Allaahumma innaa nas’aluka muujibaati rahmatik, wa `azaa’ima maghfiratik, wa s-salaamata min kulli itsm, wa l-ghaniimata min kulli birr, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan kaamilaa, wa yaqiinan shaadiqaa, wa `ilman naafi`aa, wa rizqan waasi`aa, wa qalban khaasyi`aa, wa lisaanan dzaakiraa, wa halaalan thayyibaa, wa taubatan nashuuhaa, wa taubatan qabla l-mauut, wa raahatan `inda l-mauut, wa maghfiratan wa rahmatan ba`da l-mauut, wa l-`afwa `inda l-hisaab, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar,wa adkhilna l-jannata ma`a l-abraar, yaa `aziiz, yaa ghaffaar, yaa rabba l-`aalamiin.

Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh.

Puasa sebagai Sarana Self Control (Khutbah Idul Fitri)

Puasa sebagai Sarana Self Control,

Melatih Sikap Jujur dan Kesetiakawanan Sosial

(oleh : KH. Musyfiq Amrullah, Lc, M.Si.)

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبرْ (×٩)  اللهُ  أَكْبَرُ  كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِلله كَثِيْرًا وَسُبْحٰنَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا سُبْحٰنَ مُحْيِ الْأَمْوَاتِ وَمُمِيْتُ الْأَحْيَاءِ وَمُدَبِّرِ أَمْرِ الْآخِرَةِ وَالْأوْلى حَكَمَ وَأَمْضَى وَأَغْنَى وَأَقْنَى وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَمَاتَ وَأَحْيَا ذِي الْمَنَاظِرِ اْلأَعْلٰى رَبِّ اْلآخِرَةِ وَاْلأُوْلٰى,
اللهُ أَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْد اللّٰهُمَّ إِنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ وَلَا ِندَّلَكَ وَلَامِثْلَ لَكَ وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ, اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ كَمَا أَعَزَّهُمْ بِهِ وَكَرَّمَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا, أَمَّا بَعْدُ.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكّى
 وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلّى يَاۤ أَيُّهَا النَّاسُ إِتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ إِنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ أجل لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامُ وَحَرَّمَ لَكُمْ فِيْهِ الصِّيَام

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Jama’ah Shalat Ied yang dimuliakan Allah..
Alhamdulillah hari ini kita merayakan kemenangan setelah satu bulan lamanya kita dibina melalui training Shaum Ramadhan yang sedikit banyaknya menyimpan pelajaran bagi kita yang mau meningkatkan nilai puasa yang janji Allah akan membentuk manusia yang muttaqin, yang hal tersebut tidaklah mungkin akan dapat diraih jika hanya menahan lapar dan dahaga saja. Puasa yang berfungsi menahan hawa nafsu, yang mana hawa nafsu kita lebih cenderung mengarahkan kita kepada tindakan negatif, maka dengan puasa sesungguhnya kita dapat mengendalikannya ke arah yang positif, Allah SWT berjanji bagi mereka yang dapat mengendalikan hawa nafsunya maka Allah akan memberikan Surga sebagai balasannya.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Artinya : Barang siapa yang takut kepada maqom Robbnya dan dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempatnya (QS An Naazi’at : 40)
Puasa merupakan anugrah Allah untuk manusia (mukminin), agar manusia dapat menjadikannya sebagai cara yang sangat efektif dalam menumbuhkembangkan kesadaran self control (pengendalian diri) dalam diri manusia. Nafsu sejatinya memang harus tetap dapat terkontrol agar manusia dapat menuju tatanan yang yang baik dan menguntungkan. Namun manusia secara naluriayah dan lahiriyah sangat lah lemah dalam mengontrol nafsunya.
Telah terbukti dalam sejarah, ketika syahwat manusia mendominasi dari akal fikirannya, banyaklah manusia yang terjerem-bab dalam kesesatan dan menghantarkannya ke level kehancuran sehingga adanya manusia yang lupa akan jati dirinya bahwa dia sebagai manusia. Ada yang perilakunya seperti binatang bahkan ada juga yang mengaku dirinya sebagai tuhan.
Puasa yang disyari’atkan dalam Islam bukanlah bertujuan mematikan nafsu syahwat secara total, tapi justru untuk mengontrol agar nafsu ini tetap dalam posisi netral/moderat, agar dia tetap sebagai manusia yang normal yang mempunyai hasrat, keinginan, emosi dan semangat hidup menuju kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.
Nafsu menurut Imam Al Ghozali bertumpu kepada dua muara yaitu Bathn (perut) dan Farj (kemaluan). Maka kebejatan moral, kerusakan yang terjadi diberbagai penjuru dunia ini tidak lepas dari akibat kedua nafsu yang tidak terkendalikan. Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini adalah ulah tangan manusia yang bersumber dari kedua nafsunya manusia sebagaimana firman Allah SWT :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِ النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya : Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan adalah akibat ulah tangan manusia, agar (Allah) merasakan kepada mereka dari sebagian apa yang mereka telah kerjakan agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS Ar Rum : 41)
Terjadinya tanah longsor akibat pembabatan hutan yang menjadi-jadi, banjir dimana-mana akibat pembangunan gedung yang tidak memperhatikan rembesan air yang layak dan akibat ketidaksadaran manusia membuang sampah di saluran-saluran air, lautan tercemar akibat limbah-limbah pabrik yang dibuang sembarangan sehingga berdam-pak kematian kepada hewan laut bahkan manusia. Inilah buah keserakahan manusia yang hanya memikirkan dirinya dan keuntungan bisnisnya tidak memikirkan ekosistem dan keselamatan yang lainnya. Ini bersumber dari nafsu perut.
Belum lagi terjadi korupsi baik pribadi dan korupsi berjamaah yang banyak merugikan kehidupan bangsa dan negara, percaloan dari tingkat stasiun kereta api hingga percaloan di lingkungan anggota DPR, rebutan kekuasaan melalui PILKADA, hingar bingarnya PILPRES yang belum lama diselenggarakan yang tidak sedikit dengan cara-cara yang tidak sehat seperti money politic, kecurangan peng-gelembungan suara, menjatuhkan lawan politik dengan black compagne dan sebagainya, ini pun bermuara pada nafsu perut, bahkan baru kali ini terjadi perbedaan yang mencolok hasil perhitungan cepat (quick count) yang dilakukan oleh lembaga survey. Ini bisa terjadi karena lembaga itu sudah tidak lagi menggunakan kaidah-kaidah survey, tapi justru dengan cara-cara menyalahi aturan tersebut karena adanya lembaga tersebut dibiayai oleh tim sukses masing-masing calon, bahkan ada di antara lembaga tersebut yang menjadi konsultan politik dari calon tertentu. Sehingga jika hasil surveynya gagal berarti dia juga gagal sebagai konsultan politik, sehingga adanya indikasi kecurangan dengan merubah hasil surveynya secara sistematik, sehingga hasilnya pun sangat bertolak belakang dengan yang sebenarnya dan tidak sedikit juga dia melakukannya karena adanya pesanan dari kandidat, sehingga dia berusaha untuk menjaga image-nya sebagai konsultan agar dia dianggap sukses sebagai konsultan politik. Perilaku seperti ini jelas merugikan banyak orang bahkan juga membahayakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap seperti ini dilakukan akibat manusia tidak dapat mengendalikan nafsu perutnya.
Kemudaian yang kedua nafsu farj (seksual), yang diawali dari pandangan antara dua jenis manusia yang berbeda, pemandangan-pemandangan yang meng-ganggu nafsu, dimulai dari mode-mode pakaian yang menampakan aurat yang tidak sedikit akan membangkitkan syahwat farj ini, sehingga terjadi pergaulan bebas, free sex, kumpul kebo, free love, bahkan terjadinya tindakan aborsi, pembunuhan akibat adanya perselingkuhan dan persaingan cinta, ini didasari dari nafsu farj.
Bahkan baru-baru ini terjadi perilaku penyimpangan seksual terhadap anak anak didik yang mereka masih tergolong ingusan, justru dilakukan oleh oknum guru di salah satu sekolah international, juga hal ini terjadi di beberapa daerah
Maka satu bulan penuh kita dididik untuk dapat mengendalikan kedua nafsu ini, yang halal saja diharamkan kita melakukannya di siang hari bulan Ramadhan terlebih yang diharamkan. Jika kita amalkan ajaran Ramadhan ini dalam kehidupan sehari-hari, kita dalami yang dijanjikan Allah, akan kita dapatkan insya Allah.

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Walillaahilhamdu
Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah ..
Menurut Dr. Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan Al Quran, “Taqwa” terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi atau menjaga diri, maka kalimat perintah “ittaqillah” berarti hindarilah murka dan siksa Allah atau jagalah dirimu dari azab dan murka Allah.
Sebagaimana kita ketahui siksa Allah ada dua macam :
  1. Siksaan di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah seperti makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit, tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana, merusak alam akan menjadi musibah, dan lain sebagainya .
  2. Siksa di akhirat akibat pelanggaran hukum-hukum syariat seperti tidak shalat, tidak puasa, mencuri, korupsi, melanggar hak-hak manusia dan lain sebagainya yang dapat mengakibatkan siksa neraka.
Syekh Muhammad Abduh mengatakan bahwa menghindari siksa Allah atau hukuman-hukumannya diperoleh dengan menghindari diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini terwujud dengan rasa takut kepada Allah yang berawal takut dari siksa-Nya.
Dengan demikian orang yang bertaqwa berarti orang yang merasakan kehadiran Allah setiap saat. Hal tersebut bisa diperoleh melalui banyak cara antara lain melalui shoum (puasa), karena shoum menyadarkan kita terhadap pengawasan Allah. (Quraisy Syihab, Wawasan Al Qur’an , hal 531-532).

Allahu Akbar… Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah …
Pengawasan Allah yang dikenal dalam istilah agama kita disebut “Muroqobatullah”, pengawasan Allah jelas berbeda dengan pengawasan KPK, jaksa, intelijen, polisi misalnya, apalagi orang biasa, tugas pengawasan-pengawasan manusia sedemikian terbatas karena memang manusia makhluk yang mempunyai keterbatasan, berbeda dengan Allah yang sedemikian melekat dan mengetahui sekecil apapun, bukankah banyak ayat-ayat yang menyatakan hal tersebut.
Maka dalam ibadah shoum kita sangat terasa pengawasan tersebut, bayangkan ketika kita berwudhu disiang bulan puasa, ketika kita berkumur bukankah ada peluang emas kita untuk berbuat curang seperi meneguk air misalnya, sekedar membasahi tenggorokan kita yang kering, tapi mengapa peluang itu tidak kita manfaatkan dengan baik, padahal seorang pun tak ada yang tahu. Di sanalah kita sadar adanya pengawasan Allah yang sedemikian melekat karena Allah memang dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dengan urat nadi kita sebagaimana firman-Nya :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
 Artinya : Dan telah kami ciptakan manusia dan kami mengetahui apa-apa yang dibisikan oleh hatinya dan kami lebih dekat dari urat nadinya (QS Qaf : 16)
Maka pendidikan puasa ini amat sangat berharga bagi kehidupan kita yang melatih kita agar dapat mengendalikan nafsu syaithoniyyah kita yang menjerumuskan kepada siksa Allah, karena perbuatan kita Allah akan perlihatkan kepada kita walau di dunia kita lakukan di dalam kamar tertutup dalam kegelapan tanpa lentera sekali pun. Allah SWT berfirman :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَاهُ
Artinya : Barang siapa beramal sekecil apapun kebaikan maka Allah akan perhatikan, Barang siapa beramal sekecil apapun kejelekan maka Allah akan perhatikan (QS Az Zalzalaah :7-8)
Dalam kehidupan kita di dunia initidak sedikit kita berbuat dan bersikap seolah Allah tidak melihat perbutan kita, berapa banyak di antara kita yang melakukan kebohongan publik, bersikap tidak jujur, mengkhianati amanah demi kepentingan-kepentingan pragmatis. Sikap seperti ini sama saja dia menganggap seolah Allah tidak tahu.
Padahal jujur merupakan bagian dari AKHLAKUL KARIMAH, dengan kejujuran ini lah Rasulullah bisa diterima oleh semua orang, berdakwahnya sukses, karena beliau belum pernah berdusta sejak mudanya, sehingga beliau digelari “al amiin”.
Bahkan beliau pernah diuji kejujuran beliau ketika melaksanakan perjanjian Hudaibiyah, yang poin-poinnya merugikan orang Islam. Antara lain isi dari Perjanjian Hudaibiyah yakni “Jika ada orang MEKKAH ada yang ke MADINAH (setelah perjanjian ini) MAKA DIA HARUS DIKEMBALIKAN KE MEKKAH, SEBALIKNYA JIKA ADA ORANG MADINAH YANG INGIN KEMBALI KE MEKKAH TIDAK BOLEH DIHALANGI”.
Poin ini jelas sangat merugikan umat Islam, sehingga ketika adanya beberapa orang muslim yang berhijrah ke Madinah (setelah perjanjian ini) dan sampai ke Madinah maka terpaksa Rasulullah dengan berat hati meminta kepada mereka untuk kembali ke Mekkah sesuai dengan isi perjanjian. Meskipun mereka merengek agar tidak ingin dikembalikan ke Mekkah. Akhirnya beberapa sahabat itu pergi dari Madinah tapi tidak kembali ke Mekkah mereka tinggal beberapa hari di antara Mekkah dan Madinah.
Perlu nampaknya kita ambil teladan ini, sikap jujur tetap beliau pertahankan walaupun sangat berat bagi dirinya, Nabi Muhammad SAW konsekuen menaati perjanjian yang sudah beliau sepakati, walaupun hal itu secara lahiriyah merugikannya. Kejujuran dan perkataan benar merupakan bagian dari Taqwa kepada Allah. Dan Allah memerintahkan orang yg beriman agar senantisa hidup bersama dengan orang orang yang jujur.
Sebagaimana Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ -١١٩-
Artinya : Wahai orang orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah  dan jadilah kalian bersama  orang orang yang berkata benar (jujur) (Q.S. At-Taubah 119)
Karena kejujuran dan konsekuen kepada kebenaran, Allah akan memudah-kannya ke syurganya. Sebaliknya kebohongan dan tidak konsekuen kepada kebenaran Allah akan memudahkan dia jalan ke neraka .
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : Sesungguhnya berkata benar (jujur) akan menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan akan (dimudahkan) jalan menuju surga. Sesungguhnya seseorang yang selalu berkata benar (jujur) akan dicatat (oleh Allah) sebagi orang yang jujur. Sesungguhnya kedurhakaan (bicara dusta) akan menghantar kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa akan (memudahkan) jalan menuju neraka, Sesungguhnya orang yang selalu berdusta (tidak berkata jujur) akan dicatat sebagai pendusta (HR .Muttafaqun alaih).

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar …
Dalam ibadah puasa ini, juga memberikan pelajaran kesetiakawanan sosial, karena Islam adalah agama kasih sayang.
Untuk berkasih sayang dengan orang lain, berusaha tidak mendzolimi orang lain, karena memang Islam Agama yang Rahmatan Lil ‘Alamiin ini mengajarkan kita seperti itu. Maka kita harus banyak mengintrospeksi diri terhadap sikap keberagamaan kita selama ini mengingat Islam yang amat luas sehingga adanya kita memandang Islam itu sebagian saja dan menyimpulkannya seolah-olah apa yang kita lakukan itu sudah Islam yang kaffah dengan pemahaman yang terbatas itu serta merta kita bersikap arogan membabi buta dengan menganggap dirinya paling benar dan kelompok lain salah. Bahkan bukan hanya itu dengan pemahamannya itu pun bertindak anarkis yang seolah-olah itu adalah ajaran Islam.
Sikap di antara kita seperti itu memang sebuah fenomena keberagamaan di antara kita akibat pemahaman Islam yang sempit. Sehingga dengan sikap seperti itu lahirlah penilaian-penilaian yang negatif pula terhadap Islam, padahal yang melakukan adalah sekelompok umat Islam, tapi mereka menggeneralisir sebagai ajaran Islam. Tentu tidak sepenuhnya penilaian negatif mereka terhadap Islam itu hanya didasari atas perilaku sekelompok umat Islam saja, tapi juga akibat ketidaktahuan dan kedengkian dengan tujuan agar Islam itu padam (tidak ada orang yang mau beragama Islam)
Allah SWT berfirman :
يُرِيْدُوْنَ أَنْ يُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبى اللهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُوْرَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرِيْنَ
Artinya : Mereka berkehendak mematikan Nur (Agama) Allah dengan mulut mereka. Tetapi Allah menolaknya sehingga menyempurnakan Nur (Agama)-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. (QS At Taubah : 32)
Sikap-sikap kita yang kontra produktif ini juga menyebabkan adanya sebagian orang yang bersikap Islamphobia merasa takut kepada Islam seolah Islam itu menyeramkan.

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Walillaahilhamdu
وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Artinya : Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali rahmat bagi seluruh alam (QS Al Anbiya : 107)
Ayat ini merupakan khitob Allah kepada Nabi Muhammad SAW bahwa diutusnya beliau semata-mata untuk menebar rahmat (kasih sayang) untuk seluruh alam yang bukan hanya terbatas kepada manusia saja namun makhluk lain juga seperti hewan. Hal itu dapat kita buktikan dari ajaran-ajaran Nabi SAW untuk menyayangi binatang. Seperti sabda beliau kepada sahabatnya :
Artinya : Bertaqwalah kalian kepada Allah terhadap binatang ini jika kalian ingin menungganginya tunggangilah dengan cara yang baik jika kalian ingin mengkonsumsinya sebagai makanan maka makanlah dengan cara yang baik
Artinya : Jika kalian ingin menyembelihnya sembelihlah dengan cara yang baik, demikian juga jika kalian membunuhnya dengan cara yang baik pula. Demikian juga kita dapatkan informasi Nabi Muhammad SAW kelak adanya manusia masuk surga karena memberi minum kepada anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Demikian pula adanya orang masuk neraka akibat perilakunya yang buruk terhadap kucing.
Sikap seperti yang diajarkan Islam ini didapat sebelum dunia barat memperkenalkan organisasi pecinta binatang. Jika Islam memperlakukan hewan saja seperti itu tentu ajaran memperlakukan manusia jauh lebih baik, jika menganiaya binatang saja neraka tempatnya bagaimana menganiaya manusia yang tak bersalah seperti membunuh, meledakan bom hingga banyak korban yang tak berdosa.
Kita dapatkan banyaknya buku-buku yang ditulis oleh orang-orang barat khususnya yang beragama Nashrani dan Yahudi. Islam seolah agama yang menakutkan, bak monster pembunuh, Nabi kita digambarkan dengan drakula dan sebagainya. Barnaby Rogerson dalam bukunya “Biografi Muhammad” dia berkata : “Nabi Muhammad mempunyai rating negatif didunia barat”. Dalam buku “A life of Muhammad” karya orientalis Sir William Muir yang menganggap Rasulullah sebagai “Mahound” (roh jahat) yang juga ditulis oleh Salman Rusdi dalam novelnya yang kontroversial “The Satanic Verses” tuduhan mereka bahwa Islam ditebarkan dengan pedang karena mereka melihat banyaknya pembebasan/penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh umat Islam seperti pembebasan Andalusia (Spanyol), Liberia (Portugal) dan menerobos daerah jantung peradaban Kristen pada saat itu Prancis. Fakta-fakta ini dijadikan argumen oleh mereka “Islam Agama Pedang”. Mereka lupa kekejaman mereka ketika menjajah dataran Asia, Afrika juga berulang kali menyerbu kerajaan-kerajaan kuno Arab seperti Hira, Petra, Himyar, Palestina dan sebagainya oleh kerajaan Romawi, justru negara-negara tersebut terbebas setelah Islam datang, belum lagi penjajahan yang dilakukan pada abad 18 terhadap yang dilakukan oleh Negara seperti Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol dan lain sebagainya. Akan lebih meyakinkan kita bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamiin jika kita perhatikan beberapa prinsip-prinsip ajaran Islam:
1.     Larangan memaksa orang untuk masuk Islam (عدم الإكراه)
Allah SWT berfirman :
لَا إِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ
Artinya : Tidak ada paksaan di dalam Agama (Islam) (QS Al Baqarah : 256)
Prof. Dr. Wahbah Azzualy dalam tafsirnya (Tafsir Al Munir) mengatakan : “Bahwa ayat ini merupakan salah satu prinsip Islam yang agung dan etika bersiyasah yang luhur dalam Islam. Yang tidak membenarkan pemaksaan seseorang untuk masuk Islam”. Ayat ini kata beliau dalil yang sedemikian jelas untuk membantah pandangan bahwa Islam tegak dengan pedang. Umat Islam sebelum Hijrah belumlah ada kemampuan untuk mengadakan perlawanan terlebih pemaksaan kepada mereka (kafir). Bahkan ketika Islam sudah kuat ketika di Madinah, tidaklah didapat adanya pemaksaan terhadap seseorang untuk masuk Islam, justru hal yang terbalik dilakukan oleh umat lain seperti Nashrani. Jika Jihad atau peperangan itu terjadi dalam sejarah Islam semata karena perlawanan terhadap serangan musuh, dan memberi ketentraman terhadap beragama, dan memberikan peluang untuk menyebarkan Islam ketika adanya halangan dari penguasa lalim.
Dalam peperangan pun Rasulullah SAW sering mengingatkan kepada Jundillah (tentara) agar tidak membunuh wanita, melindungi anak-anak dan tidak menghancurkan tempat-tempat ibadah agama lain. Bukankah itu bentuk rahmat Islam. Jika dalam kondisi peperangan Rasulullah SAW berwasiat seperti diatas, lantas dengan alasan apa kita menghancurkan tempat ibadah agama lain yang justru bukan dalam Daarul Harb (peperangan). Namun tentu pendirian tempat ibadah harus juga prosedural sesuai dengan aturan sehingga tidak menyulut amarah dari umat agama yang berbeda
2.     Al-Waq’iyyah (الواقعية) berpijak kepada kenyataan objektif
Al quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam, menegaskan bahwa ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT :
فَأَقِمْ وَجْحَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفاً فِطْرَتَ اللهِ
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada fitrah Allah … (QS Ar Rum : 30)
Fitrah berarti naluri dasar yang pasti dimiliki oleh umat manusia manapun, maka ajaran Islam tidaklah pernah mengajarkan yang bertentangan dengan fitrah tersebut. Seperti kecendrungan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya, Islam melegalkan dengan cara pernikahan. Lembaga pernikahan sedemikian sakral dalam Islam karena bukan hanya melegalkan hubungan laki dan perempuan tapi juga sahnya penisbahan keturunan sehingga adanya hukum perwalian waris dan sebagainya.
Pernikahan ini juga merupakan kritik pedas kepada sebagian agama yang mengharamkan pimpinan agamanya untuk menikah padahal secara naluri terdalam mereka membutuhkannya, maka kita dapatkan banyaknya pimpinan agama mereka melakukan hubungan dengan lain jenis secara ilegal alias berzina.
Maka pantaslah kalau Rasulullah SAW menegur sikap sahabat yang tidak mau menikah (menggauli istrinya lagi) dengan alasan amal ibadah mereka jauh lebih sedikit dibanding Rasul padahal beliau sudah dijamin masuk surga sedangkan kita kata mereka tak ada apa-apanya dibanding dengan Rasul; maka Rasulullah bersabda :
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Artinya : Barang siapa yang tidak menyukai terhadap sunahku maka dia bukan termasuk dari golonganku (HR Muttafaqun Alaih)
3.     Prinsip kemudahan/tidak memberat-kan umat manusia (عدم التكليف)
Allah SWT berfirman :
يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اْليُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُم اْلعُسْرَ
Artinya : Allah menghendaki terhadap kalian kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan (QS Al Baqoroh : 185)
Acapkali Rasulullah SAW jika mengutus sahabatnya ke suatu daerah beliau berwasiat :
يسر ولا تعسروا بشروا ولا تنفروا
Artinya : Berikanlah kemudahan jangan berikan kesulitan, berikanlah kabar berita yang baik jangan membuat mereka jauh.
Kemampuan manusia berbeda, sementara tuntutan ajaran agama Islam harus dilakukan. Disinilah ajaran Islam dapat kita rasakan rahmatnya seperti dalam mengerjakan rukun Islam yang lima, yang merupakan pokok ajaran Islam yang merupakan keharusan dilakukan oleh umatnya. Namun dalam tataran praktek-nya tidak semua umat Islam dapat menjalankan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak dapat mengerjakan-nya sama sekali. Seperti ibadah haji bukankah ibadah haji wajib?, Bagaimana dengan yang tidak mampu?, Shalat diwajibkan berdiri bagaimana yang tidak mampu berdiri? Disana lah kita dapat rahmat Islam adanya keringanan-keringanan terhadap umat yang tidak mampu melaksanakannya dengan sempurna.
Ada beberapa keringanan-keringanan dalam Islam yang sedemikian besar manfaatnya bagi umat manusia, antara lain :
  1. Gugurnya kewajiban haji dan umroh karena ketidakmampuan;
  2. Pengurangan, seperti pada shalat Qoshor bagi musafir;
  3. Penggantian, seperti Wudhu dan Mandi dengan tayamum ketika tidak ada air. Shalat berdiri dengan duduk ketika tidak mampu berdiri; Puasa dengan fidhyah (memberikan makan orang kafir) bagi yang tidak mampu puasa
  4. Mendahulukan dan mengakhirkan, seperti shalat jama’ taqdim dan takhir;
  5. Mengkonsumsi yang haram dibolehkan jika darurat dan sebagainya.

4.     Kesetaraan derajat dihadapan Allah
Islam tidak pernah melihat adanya bangsa nomor satu dan dua, tidak juga melihat adanya kasta-kasta. Dihadapan Allah semua sama yang membedakan adalah taqwanya :
إِنَّ أَكْـرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُــمْ
Artinya : . Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian disisi Allah adalah taqwanya … (QS Al Hujurat : 13)
Rasulullah SAW juga bersabda :
لا فضل لعربي ولا عجمي إلا بالقوى
Artinya : Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bang asing kecuali taqwanya (Alhadist)
Demikian pula halnya antara laki-laki dan perempuan dihadapan Allah SWT sama dalam berkarya demikian Allah tidak membedakan pahala/balasan bagi kedua-nya, firman Allah SWT :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْــثٰى وَهُوَ مُؤْمِن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ماكانوايعملون
Artinya : Barangsiapa yang melakukan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka kami akan memberikan kehidupan yang baik dan akan kami berikan pahala yang jauh lebih baik dari apa yang mereka lakukan. (QS An Nahl : 97)
Dengan tidak adanya diskriminasi berarti adanya peluang untuk saling “Istibaq fil Kahairaat” bukankah ini bentuk rahmat, sehingga tidak adanya pengkaplingan orang-orang tertentu di surga kelak, tapi perbedaan itu karena semata ketaqwaan yang membedakan.

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Walillaahilhamdu
Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah ..
Setelah kita renungkan pendidikan Ramadhan, tentu kita mengharap ampunan Allah SWT agar kita dapat diampunkan dosa-dosa kita yang lalai terhadap ajaran-ajaran Allah melalui pesan puasa Ramadhan ini, dan semoga Allah juga menganugrahkan kita umur yang barokah sehingga kita dapat dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun-tahun yang akan datang.
Setelah ini kita pun akan saling bersalam-salaman antara kita dengan kita, suami dengan istrinya, anak dengan orang tuanya, saudara yang satu dengan yang lainnya, karena tidak sedikit kesalahan kita sesama kita baik yang disengaja atau tidak.
Maka setelah itu bersihlah hati kita dari segala dosa dan kesalahan karena sudah terampuni dan dimaafkan oleh sesama kita seperti bayi yang keluar dari rahim ibunya yang tak ada sedikit pun dosa.
 MINAL AIDIN WAL FAAIDZIN, TAQOBBALALLAHU MINNA WAMINKUM ..