Minggu, 03 April 2016

Jumat, 01 April 2016

"JANGAN" BELAJAR BAHASA ARAB --- KENAPA BAHASA ARAB KURANG PEMINAT?

Tadi sore (sebelum memposting artikel ini), saya sempat  berkunjung ke sebuah pameran buku. Di dalamnya banyak buku yang dijual mulai dari buku lama hingga buku terbaru. Ruangannya nyaman, sehingga saya sebagai salah satu pengunjung merasa lupa waktu. Ditambah lagi musik yang menarik memang benar-benar memanjakan para para pengunjung. 

Seperti biasa, tiap datang ke toko buku, saya tidak langsung membeli. Awalnya saya berkeliling, melihat semua judul buku dan mencari yang paling menarik. Setelah menemukan buku yang menurut saya tepat barulah saya membelinya dan pulang. Kebetulan saya hanya membeli 1 buah buku.

Sesampainya di rumah, saya baru menyadari sesuatu. Waktu melihat-lihat buku di rak bahasa tepatnya di kumpulan kamus bahasa, saya menemukan banyak sekali buku dan kamus dari berbagai bahasa, diantaranya, mandarin, jepang, inggris dll. Sebagai alumni PBA tentu saja saya mencari buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Arab. Ternyata buku yang berkaitan tentang bahasa Arab sangat-sangat minim atau sedikit.

Saya pun kembali ke sana dan berusaha mencari kembali dengan seksama. Setelah hampir putus asa mencari akhirnya kutemukan juga buku yang berkaitan dengan bahasa Arab. Namun sayang, jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan buku mengenai bahasa-bahasa yang lainnya. Benar-benar mengharukan.

Saya tau, ini adalah tugasnya para marketer, yang mampu melihat kondisi pasar. Yang pada akhirnya buku-buku tentang bahasa Arab sangat jarang diminati dan diyakini tidak menghasilkan keuntungan yang signifikan. Sangat berbeda dengan hasil penjualan kamus korea dan buku-buku tentang asmara yang penjualannya semakin meningkat.

Kemudian dengan mengetahui bahwa keuntungan dari penjualan buku bahasa Arab sangat sedikit, kita jadi tahu. Bahwa sangat sedikit orang yang menyukai belajar bahasa Arab. Teman-teman sekalian, apa sebenarnya masalah yang terjadi sehingga sedikit sekali orang yang meminati bahasa ini.

Setelah melakukan analisis dan pencarian yang panjang, ahirnya saya temukan sebuah artikel yang membahas tentang “mengapa bahasa Arab kurang peminat”.
Bersumber dari : http://ikhwangrafis.blogspot.co.id/2014/05/jangan-belajar-bahasa-Arab-mahasiswa.html?showComment=1459488363460#c2354322281715246433

1. Anggapan Bahwa Bahasa Arab itu Susah

Anggapan seperti ini memang sering kita dengar dari orang-orang yang pernah belajar bahasa Arab. Entah itu dari kalangan santri ataupun mahasiswa. Meskipun pada kenyataannya kita akui bahasa ini memang sulit untuk dikuasai tapi sebagai calon guru bahasa Arab tidak sepantasnya kita terlalu meyakini apalagi memberikan doktrin seperti itu pada murid kita. Jika calon guru saja berfikir seperti itu, bagaimana dengan para muridnya? . Akhirnya merekapun jauh dari kecintaan terhadap bahasa Arab.

2. Bahasa Arab itu Khusus untuk Anak Pesantren

Pasti pernah ki’ dengar itu toooh!!! Memang hal tersebut tidak dapat kita pungkiri bahwa pesantren memang sarangnya pelajaran bahasa Arab. Tapi seiring berjalannya waktu, sekarang ini sekolah berbasis umum pun telah memasukkan bahasa Arab pada salah satu mata pelajaran Muloknya. Seperti SMA Negeri 2 Parepare dan SMA Negeri 1 Model Parepare. Tapi meskipun demikian tetap saja popularitas pelajaran bahasa Arab masih kalah dengan bahasa Inggris dan Korea yang semakin diminati banyak kalangan.

3. Sistem Belajar yang Masih Tradisional

Bukan untuk membanding-bandingkan, tapi untuk melihat kenyataan. Coba lihatlah dilapangan, sudah berapa banyak klub-klub belajar bahasa asing yang menawarkan metode-metode canggih yang memudahkan mereka untuk menguasai bahasa tersebut. Kursus bahasa inggris misalnya, mereka terus bersaing memberikan terobosan baru untuk menarik para calon siswanya. Sedangkan dalam pembelajaran bahasa Arab, tak ada trobosan yang berarti. Sistem belajar yang masih tradisional. Bukan bermaksud untuk merendahkan sistem ini. Tapi setidaknya kita harus realistis melihat lapangan. Jika ingin bahasa ini kuat, maka metode dan medianya harus lebih kreatif dan inovatif. Jika cinta bahasa Arab mari kita kreatif.

4. Para Sarjana yang Kurang Kontribusi

Buku “Ragam Permainan Edukatif Pembelajaran Bahasa Arab”  serta buku saku kosakata yang telah saya buat ternyata belum cukup merangsang teman-teman dan para alumni PBA untuk mencoba berpikir membuat hal kreatif lainnya bagi bahasa Arab. Untuk tingkat ‘hiwar’ atau berkomunikasi saja tidak mau, malu gare’.  Kondisi ini diperparah bahwa mereka kagum melihat mahasiswa jurusan sebelah berdiskusi dengan bahasa asing lain, tapi malu saat mereka menerapkan bahasa Arab didepan banyak orang. Apakah ini yang dinamakan cinta bahasa Arab?.

5. Konspirasi Kaum Kuffar untuk Menghilangkan Pengaruh Bahasa Arab


Jika sebelumnya adalah faktor internal dari bahasa Arab itu sendiri. Maka analisis saya yang terakhir adalah eksternal yakni adanya konspirasi global yang digencarkan untuk menghapus keotentikan bahasa Arab. Inilah yang terjadi di Turki. Saat masih berbentuk khilafah, turki dulunya masih mengadopsi banyak bahasa Arab, namun setelah kaum sekuleris masuk dan memimpin pemerintahan, jadi bahasa Arab dikikis sedikit demi sedikit. Dengan mengusung takeline “nasionalisme” akhirnya mereka mampu menjauhkan masyarkat turki dengan bahasa Arab. Setelah dijatuhkan, maka ditonjolkanlah bahasa-bahasa yang seolah membawa “kehidupan” untuk mereka yang menguasainya. Apalagi media sekarang seolah ingin menunjukan sebuah kalimat “Jangan belajar bahasa Arab!”. Ini disebabkan karena pengaruh bahasa Arab terhadap pemahaman agama islam sangat besar. Dan menurut mereka bahasa Arab juga harus ditumpas.

-------------------------------------------------
Saya juga belum terlalu mahir dibidang ini. Tapi setidaknya kita tunjukan kebanggan, kepedulian dan kontribusi untuk terus mengembangkan pembelajaran bahasa Arab yang baik dan benar serta mengusung kreatifitas dalam menyebarluaskannya. Wallahu ‘alam bi shawwab.

by. Rahim Alwasilah