Minggu, 29 November 2015

WUJUDKAN TAQWA DENGAN TINDAKAN NYATA BUKAN HANYA SEKADAR SEMBOYAN SEMATA (Khutbah Jumat)


WUJUDKAN TAQWA DENGAN TINDAKAN NYATA
BUKAN HANYA SEKADAR SEMBOYAN SEMATA


(Oleh: DRS. H. IRFAN ANSHORY)

As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.
Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.
Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah.
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii wa shahbihii wa man waalah.
`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Segala puji dan puja kita panjatkan ke hadirat Allah SWT semata-mata, satu-satuNya Dzat tempat kita mengabdi dan tempat kita berserah diri. Shalawat dan Salam, kesejahteraan dan kedamaian, semoga dilimpahkan Allah kepada Pemimpin Besar kita, Nabi Muhammad Rasulullah SAW, serta para keluarga dan shahabat beliau yang setia. Melalui pribadi yang mulia Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Terakhir, sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama yang haqq dan sempurna untuk mengatur umat manusia, agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi, dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.
Setiap tanggal 1 Syawwal, umat Islam di seluruh dunia, yang kini berjumlah 1,5 miliar jiwa dan merupakan hampir seperempat penduduk planet Bumi, bergembira merayakan Festival Kemenangan atau Idul Fitri, setelah sebulan penuh berlatih dalam pengendalian diri. Selama bulan Ramadhan kita telah menunaikan ibadah puasa, menegakkan shalat tarawih, memperdalam kajian Al-Qur’an, memperbanyak infaq dan shadaqah, serta amalan lainnya yang diperintahkan agama. Mudah-mudahan Allah SWT menerima segala aktivitas Ramadhan kita sebagai amal shaleh yang menambah neraca kebajikan kita pada Hari Perhitungan di akhirat nanti. Taqabbala l-Laahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.
Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah puasa yang telah kita laksanakan merupakan ibadah yang sangat personal. Pujangga termasyhur dari Pakistan, Muhammad Iqbal, melukiskan hubungan seseorang yang berpuasa dengan Sang Pencipta sebagai hubungan antara “Aku-dan-Engkau”, sebab ibadah puasa tidak dapat dipamerkan kepada orang lain. Yang mengetahui bahwa kita berpuasa hanyalah diri kita sendiri beserta Allah, tidak ada pihak ketiga. Dengan menghayati ibadah puasa, seorang makhluq merasakan kedekatan atau suasana akrab dengan Khaliqnya, sesuai dengan firman Allah yang berkaitan dengan kewajiban puasa, dalam Surat al-Baqarah ayat 186: Wa idzaa sa’alaka `ibaadii `annii fa innii qariib. Ujiibu da`wata d-daa`i idzaa da`aan. Falyastajiibuu lii walyu’minuu bii la`allahum yarsyuduun (“Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Akan Kukabulkan permohonan orang yang mendo’a tatkala ia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka merespons panggilan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran selalu.”)
Setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan, mudah-mudahan kita dapat memetik buah yang lezat dari ibadah shaum tersebut, dengan senantiasa menyadari kemahahadiran Allah dalam setiap gerak langkah dan aktivitas kita sehari-hari. Kita senantiasa menghayati firman Allah dalam Surat al-Hadid ayat 4: Wa huwa ma`akum ainamaa kuntum. Wal-Laahu bimaa ta`maluuna bashiir (“Dia bersamamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Melihat terhadap yang kamu perbuat.”) Juga firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 115: Wa li l-Laahi l-masyriqu wa l-maghrib. Fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhu l-Laah. Inna l-Laaha waasi`un `aliim (“Kepunyaan Allah timur dan barat. Ke mana jua engkau berpaling, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas JangkauanNya serta Maha Mengetahui.”) Dengan demikian diharapkan kita selalu memelihara diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. Inilah tujuan akhir (the ultimate goal) dari ibadah puasa, la`allakum tattaquun, “agar kamu sekalian bertaqwa.”
Pribadi taqwa seperti inilah yang pantas untuk menjadi pemimpin, bahkan mengelola negara. Jika dia menjadi presiden, gubernur, bupati atau walikota, niscaya dia akan menggunakan kekuasaannya untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, dan sekali-kali tidaklah dia memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta kekayaan mumpung dia masih berkuasa, karena dia yakin bahwa kepemimpinannya itu tiada lain adalah amanat Ilahi yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pemberi Mandat, yaitu Allah`Aziizu l-Hakiim, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sebaliknya, jika pribadi yang bertaqwa ini hidup sebagai rakyat, maka dia akan taat dan patuh kepada pemimpin selama pemimpin itu menjalankan tugasnya di atas jalan yang diridhai Allah. Sekiranya dia melihat pemimpinnya menyeleweng atau keluar dari ajaran agama, maka dia tidak segan dan ragu untuk menegur dan memperingatkan pemimpinnya itu. Ternyata pribadi-pribadi bertaqwa seperti inilah yang mampu menjadi demokrat-demokrat sejati, karena mampu melihat manusia sebagai ‘manusia’. Dia tidak meninggikan seseorang sehingga mengkultuskannya, dan dia tidak merendahkan seseorang sehingga memperhambanya. Sikap hidup Ketuhanan Yang Maha Esa memancar dalam Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, atau dalam bahasa Al-Qur’an: hablun mina l-Laahi wa hablun mina n-naas.
Para hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Sebulan penuh lamanya kita menempuh latihan menahan diri, dengan tidak melakukan makan dan minum, serta tidak melakukan hubungan badani suami-istri, dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Menahan lapar dan dahaga dalam puasa sama sekali bukanlah untuk menghilangkan naluri yang ada pada makhluk hidup, yaitu nafsu makan dan minum, melainkan untuk menumbuhkan kemampuan pengendalian atas nafsu-nafsu tersebut. Inilah salah satu perbedaan manusia dengan hewan, sebab manusia berpotensi untuk mengendalikan nafsu sedangkan hewan tidak. Lebih penting lagi, pengendalian nafsu tersebut sangat penting untuk memelihara nilai-nilai dan norma-norma hidup bermasyarakat. Jika manusia tidak mampu mengendalikan nafsu makan dan minumnya, maka timbullah keinginan pemenuhan kebutuhan secara tidak wajar, sehingga muncul kejahatan-kejahatan yang sering kita saksikan: penipuan, pencurian, perjudian, prostitusi, korupsi, dan sebagainya.
Demikian juga menahan diri dari kegiatan seksual, bukanlah untuk membunuh syahwat yang merupakan naluri manusia, melainkan menumbuhkan kemampuan pengendalian atas naluri seksual tersebut dan menempatkannya pada proporsi yang wajar. Tidak berlebih-lebihan seperti anggapan ahli psikoanalisis dari Austria, Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia dirangsang oleh nafsu seksual bawah-sadar. Tidak pula merendahkannya dengan menganggap nafsu seksual sebagai salah satu bentuk ketidaksucian seperti ajaran agama tertentu. Ajaran Islam justru menyalurkan naluri seksual melalui ikatan tali Allah berupa pernikahan, dengan tujuan mencapai ketenteraman rumah tangga serta menurunkan generasi yang shaleh.
Pengendalian hawa nafsu ini sangat erat hubungannya dengan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLA L-LAAH (Tiada ilah kecuali Allah) yang setiap saat kita ikrarkan dalam shalat. Janganlah kita terjerumus kepada kemusyrikan terselubung yang mungkin tidak kita sadari, sebagaimana diperingatkan Allah dalam Surat al-Furqan ayat 43: Ara’aita manittakhadza ilaahahuu hawaah? (“Apakah engkau memperhatikan bahwa banyak manusia yang mengambil hawa nafsunya menjadi ilahnya?”).
Dalam era modern dewasa ini, bentuk kemusyrikan yang tradisional, seperti menyembah patung, memandikan keris atau meminta berkah ke kuburan, hanya masih kita jumpai pada masyarakat yang tidak berpendidikan. Manusia modern tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan primitif semacam itu. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa manusia modern sudah terbebas dari bahaya syirik. Disadari atau tidak, pada zaman modern ini lebih banyak bermunculan “berhala-berhala” baru yang tidak kurang bahayanya dalam menjerumuskan umat manusia.
Di sekeliling kita bertebaran “Lata dan Uzza” dalam bentuk materi dan kedudukan, yang setiap saat merayu manusia supaya bertuhan kepadanya. Betapa banyak orang yang menjadikan tahta atau kedudukan sebagai ilahnya, sehingga dia rela berkorban dengan segala cara untuk mencapai atau mempertahankan kedudukannya. Betapa sering kita mendengar orang yang menumpuk harta kekayaan dengan tidak peduli apakah cara yang ditempuh halal atau haram. Mudah-mudahan ibadah shaum Ramadhan meningkatkan kemampuan kita dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga kita dapat memelihara kemurnian pengabdian kita kepada Allah SWT.
Semakin jelas bagi kita bahwa mengaplikasikan ikrar LAA ILAAHA ILLA L-LAAH tidaklah segampang mengucapkannya. Hal ini memerlukan latihan dan ujian. Memang benar ungkapan simbolis yang mengatakan bahwa titian Shiraath al-Mustaqiim itu sangat halus laksana “rambut dibelah tujuh.” Artinya melangkah pada jalan yang diridhai Allah itu tidaklah mudah, karena sepanjang hidup kita akan berdatangan ujian dan cobaan dari sekeliling kita. Marilah kita renungkan firman Allah dalam Surat al-Ankabut ayat 2–3: Ahasiba n-naasu ayyutrakuu ayyaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun. Wa laqad fatanna l-ladziina min qablihim falaya`lamanna l-Laahu l ladziina shadaquu walaya`lamanna l-kaadzibiin (“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan berkata ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Sungguh telah diuji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui mereka yang benar dan mereka yang dusta.”) Semoga Allah memasukkan kita kepada golongan yang disebutkan dalam Surat al-Ahqaf ayat 13-14: Inna l-ladziina qaaluu rabbuna l-Laahu tsumma staqaamuu fa laa khaufun `alaihim wa laa hum yahzanuun. Ulaa’ika ashhaabu l-jannati khaalidiina fihaa jazaa’am bimaa kaanuu ya`maluun (“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’, lalu mereka konsisten dengan pernyataan itu, maka tidaklah ada kecemasan dan kesusahan bagi mereka. Mereka itulah penghuni surga, kekal mereka di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”)
Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Laa ilaaha illa l-Laahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar, wa li l-Laahi l-hamd.
Para hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Hari ini kita merayakan “festival kesucian” atau Idul Fitri. Kata`id berarti “kembali atau berulang”, satu akar kata dengan `adah, yang diindonesiakan menjadi adat, yaitu kebiasaan atau tradisi yang senantiasa terus berulang. Juga kata `id berarti “hari raya atau festival”. Dengan demikian,`id memiliki arti lengkap sebagai hari raya yang berulang secara periodik setiap tahun. Adapun kata fithri seakar dengan fithrah, yang berarti “sifat atau kejadian asal yang suci”. Menurut ajaran Islam, manusia terikat dalam suatu perjanjian primordial dengan Tuhan. Manusia sejak dari kehidupannya dalam alam ruhani dahulu telah berjanji untuk menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya.
Marilah kita perhatikan firman Allah dalam Surat al-A`raf ayat 172: Wa idz akhadza rabbuka mim banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum `alaa anfusihim ‘alastu birabbikum’, qaaluu ‘balaa syahidnaa’. An taquuluu yauma l-qiyaamati innaa kunnaa `an haadzaa ghaafiliin (“Ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari sulbi anak-anak Adam keturunan mereka, dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Ya, kami bersaksi’. Demikianlah agar kamu tidak berkata pada Hari Kiamat bahwa ketika itu kami lalai.”)
Dengan demikian, manusia dilahirkan ke dunia dalam kejadian asal yang suci (fithrah), dan diasumsikan bahwa dia akan tumbuh dalam kesucian itu seandainya tidak ada pengaruh lingkungannya. Firman Allah dalam Surat ar-Rum ayat 30: Fa aqim wajhaka li d-diini haniifaa. Fithrata l-Laahi l-latii fathara n-naasa `alaihaa. Laa tabdiila li khalqi l-Laah. Dzaalika d-diinu l-qayyim. Wa laakinna aktsara n-naasi laa ya`lamuun (“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama secara benar, menurut fitrah Allah yang atas itu pula Allah menciptakan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang baku, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.”) Juga Sabda Nabi SAW bahwa “setiap manusia dilahirkan dalam kesucian”. Kesucian asal itu bersemayam dalam hati nurani dan mendorong manusia untuk senantiasa mencari, berpihak dan berbuat yang baik dan benar.
Akan tetapi, meskipun dasarnya suci, manusia adalah makhluk yang lemah, mudah membuat kesalahan, sehingga tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak suci lagi. Manusia mudah tertarik kepada hal-hal yang sepintas lalu menawarkan kesenangan, padahal dalam jangka panjang membawa malapetaka. Itulah sebabnya dalam agama kita ada ritus-ritus penyucian diri, dan ibadah puasa merupakan ritus yang utama untuk membakar habis dosa-dosa kita. Bukanlah suatu kebetulan jika bulan yang baru saja kita lalui bernama Ramadhan, yang secara harfiah berarti “bulan pembakaran”.
Inti Idul Fitri adalah bersihnya kita dari segala dosa. Kesucian diri ini perlu terus kita pelihara dan tumbuhkan, karena pada hakikatnya proses penyucian diri ini merupakan jihad an-nafs, proses yang terus-menerus harus kita jalani sepanjang hidup. Betapa sulitnya proses ini sehingga Al-Qur’an menyebutnya sebagai al-`aqabah atau “jalan mendaki”. Sebagai langkah awal dalam menyongsong masa depan, pada hari raya Idul Fitri ini kita bermaaf-maafan satu sama lain, menghapus segala dosa dan permusuhan. Sebagai makhluk yang lemah, kita mungkin pernah tergelincir dalam kesalahan terhadap orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dalam pergaulan sehari-hari sering terjadi pertikaian ataupun kesalahfahaman antara sesama anggota masyarakat, bahkan sering terjadi perselisihan dalam satu keluarga, antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, antara kakak dan adik. Marilah kita jadikan hari 1 Syawal 1430 Hijri ini sebagai momentum untuk menghabisi perasaan dendam dan amarah yang mungkin tumbuh pada saat kita lalai dan terbawa oleh emosi. Menurut firman Allah dalam Ali Imran ayat 134, salah satu ciri orang bertaqwa adalah kaazhimiina l-ghaizha wa l-`aafiina `ani n-naas (“menahan amarah dan memaafkan manusia”). Marilah kita buka lembaran kehidupan yang baru, yang lebih akrab, yang bersih dari suasana pertikaian, sesuai dengan kesucian Idul Fitri.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Bagi kita bangsa Indonesia, bulan Ramadhan juga merupakan bulan proklamasi kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara kita pada hari Jum`at tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi. Kita secara tegas menyatakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa kemerdekaan bangsa dan negara kita semata-mata “atas berkat rahmat Allah”.
Suatu hal yang terlupa dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.
Sebagai contoh, Fatahillah dari Pasai menjadi panglima balatentara Demak, lalu mendirikan kota Jakarta. Ki Geding Suro dari Demak mendirikan Kesultanan Palembang. Syaikh Yusuf dari Makassar menjadi mufti Kesultanan Banten. Beberapa sultan Aceh adalah keturunan suku Melayu dan Bugis!
Masih banyak lagi contoh yang lain. Pada zaman pra-Islam hal ini belum pernah terjadi, sebab belum ada rasa persaudaraan antar suku. Itulah sebabnya mengapa di kota-kota seluruh Tatar Sunda ada Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung, tapi tidak kita jumpai Jalan Gajah Mada!
Berabad-abad sebelum lahir faham nasionalisme, rasa satu bangsa pertama kali ditanamkan oleh Islam. Perhatikan saja nama ulama-ulama termasyhur kita zaman dahulu: Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (Pansur), Syaikh Abdussamad al-Jawi al-Falimbani (Palembang), Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Arsyad al-Jawi al-Banjari (Banjar), Syaikh Syamsuddin al-Jawi as-Sumbawi (Sumbawa), Syaikh Yusuf al-Jawi al-Maqashshari (Makassar), Syaikh Abdulkamil al-Jawi at-Tiduri (Tidore). Semua mengaku Jawi (‘bangsa Jawa’), dari suku mana pun dia berasal. Berabad-abad sebelum istilah ‘Indonesia’ diciptakan oleh ahli geografi James Richardson Logan tahun 1850, nenek moyang kita menamakan diri ‘bangsa Jawa’, sebab orang Arab menyebut kepulauan kita Jaza’ir al-Jawa (Kepulauan Jawa). Sampai hari ini, jemaah haji kita masing sering dipanggil ‘Jawa’ oleh orang Arab. “Samathrah, Sundah, Sholibis, kulluh Jawi!” demikian kata seorang pedagang di Pasar Seng, Makkah. “Sumatera, Sunda, Sulawesi, semuanya Jawa!”
Sebelum Islam datang ke Indonesia, bahasa Melayu hanya dipakai di Sumatera. Bahasa Melayu baru tersebar di Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam. Para ulama, di samping menyebarkan agama Islam, juga menyebarkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sebagai huruf persatuan digunakan Huruf Arab-Melayu (Huruf Jawi), yang dilengkapi tanda-tanda bunyi yang tidak ada dalam huruf Arab aslinya. Huruf `ain diberi tiga titik menjadi nga; huruf nun diberi tiga titik menjadi nya; huruf jim diberi tiga titik menjadi ca; dan huruf kaf diberi satu titik menjadi ga. Alhasil, masyarakat dari Aceh sampai Ternate mampu berkomunikasi dengan bahasa dan aksara yang sama, dan hal ini belum pernah terjadi pada zaman Hindu-Buddha.
Dari seluruh data dan fakta yang telah kita bahas, jelas sekali betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.
Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan, maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian, sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya bersaudara.”
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.
Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering ma`shiyat kepada-Mu. Telah banyak Engkau penuhi kenikmatan hidup kami dengan kemurahan-Mu, namun kami sering ingkar dan tidak bersyukur kepada-Mu. Telah banyak Engkau tutupi aib dan kekurangan kami dengan kemuliaan-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, betapa beratnya siksa yang akan kami tanggung, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu.
Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu. Karena itu Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami, angkatlah bangsa kami Ya Allah dari jurang kehinaan, berilah kami pemimpin yang mampu membimbing kami ke arah kebaikan, dan tunjukkan bagi kami jalan keselamatan dunia dan akhirat agar kami tidak tersesat. Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami.
Allaahumma innaa nas’aluka l-`afwa wa l-`aafiyah, wa l-mu`aafaata d-daa’imah, fi d-diini wa d-dunyaa wa l-aakhirah, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Allaahumma innaa nas’aluka muujibaati rahmatik, wa `azaa’ima maghfiratik, wa s-salaamata min kulli itsm, wa l-ghaniimata min kulli birr, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan kaamilaa, wa yaqiinan shaadiqaa, wa `ilman naafi`aa, wa rizqan waasi`aa, wa qalban khaasyi`aa, wa lisaanan dzaakiraa, wa halaalan thayyibaa, wa taubatan nashuuhaa, wa taubatan qabla l-mauut, wa raahatan `inda l-mauut, wa maghfiratan wa rahmatan ba`da l-mauut, wa l-`afwa `inda l-hisaab, wa l-fauza bi l-jannah, wa n-najaata mina n-naar.
Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar,wa adkhilna l-jannata ma`a l-abraar, yaa `aziiz, yaa ghaffaar, yaa rabba l-`aalamiin.

Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh.

0 komentar: