Sabtu, 27 Juni 2015

ILMU JIWA BELAJAR BAHASA

Struktur Kajian Ilmu Jiwa Belajar Bahasa

BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang.
Linguistic lebih memusatkan perhatiannya kepada bahasa sebagai medium komunikasi daripada sebagai hal-hal lain, apakah dalam bentuk lisannya ataukah dalam bentuk tertulisnya. Oleh karena ada ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli itu mempergunakan juga linguistic sebagai alat untuk menganalisis bahasa dalam bidang mereka, maka terjadi semacam gabungan pendekatan dalam studi itu.
Dalam linguistic terdapat struktur-struktur yang mendasari pengetahuan linguistic. Oleh karena itu kami sengaja akan sedikit membahas tentang hal-hal yang mendasarinya dari sedikit ilmu yang kami dapatkan. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.Apa saja bidang-bidang linguistic itu?
2.Pengertian dari setiap bidang tersebut?.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Bidang-bidang Linguistik
Setiap ilmu pengetahuan lazim dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang. Memang setiap ilmu pengetahuan meliputi bahan yang luas sekali, dan demi alasan praktis para ahli suka membagi ilmunya menjadi berbagai bidang bawahan atau cabang ilmunya. Demikian pula ilmu linguistik dibagi menjadi bidang bawahan yang bermacam-macam. Misalnya ada linguistik antropologis dan ada juga linguistik sosiologis/sosiolinguistik.

Akan tetapi, bidang-bidang bawahan tadi semuanya mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasarinya. Bidang yang mendasari adalah bidang yang menyangkut struktur-struktur dasar tertentu, yaitu:
1.Struktur bunyi bahasa (Fonetik dan fonologi)
2.Struktur kata (Morfologi)
3.struktur antar kata dalam kalimat (sintaksis)
4.masalah arti atau makna (semantic)
B.Phonology Sistem
Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut dengan fonologi. Fonologi berasal dari kata Phon yang artinya bunyi, dan logi artinya ilmu. Menurut werarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi dua yaitu:
1.Fonetik
Fonetik adalah bifang linguistic yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan jenisnya fonetik dibagi menjadi tiga, yaitu: Fonetik Artikulatoratis, disebut juga fonetik organis atau fisiologis yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklarifikasikan. Fonetik Akustik, yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisik atau fenomena alam, bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, intensitasnya dan timbrenya. Fonetik Auditoris, yang mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dan dari ketiga jenis fonetik ini yang palimg dominan dalam dunia linguistic adalah Fonetik Artikulatoratis, sedangkan Fonetik Auditoris lebih dengan bidang kedokteran, yaitu neurology, dan Fonetik Akustik lebih berkenaan dengan fisika.
2.Fonemik
Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa yang pada umumnya tanpa memperlihatkan apakah bunyi tersebut itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak, sebaliknya objek penelitian fonemik adalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.
Untuk mengetahui apakah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung binyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang pertama, kalau ternyata kedua satuan bahasa tersebut berbeda maknanya, maka benar bunyi tersebut adalah sebuah fonem, karena ia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.
C.Morfologi System
a.Morfem.
Morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Untuk menmentukan sebuah satuan bentuk morfem atau bukan, kita harus membandingaka bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk terserbut adaalah morfem. Contohnya adalah : ke pasar, ke kampus, ke dapur, kata (ke) yang diulang-ulang tersebut namanya morfem karena (ke) tersebut mempunyai makna yang sama yaitu tujuan.
Morfem-morfem didalam bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa criteria antara lain :
1.morfem bebas dan morfem terikat
morfem bebas adalah mmorfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul didalam pertuturan misalnya bentuk pulang, makan, bagus adalah termasuk morfem bebas, kita dapat menggunakan morfem tersebut tanpa harus terlebih dahulu denagn morfem lain.
Morfem terikat dalah morfem yang tanpa digabiung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan, misalnya bentuk-bentuk seperti, juang, henti, gaul termasuk morfem terikat karena bentuk-bentuk tersebut meskipun bukan afiks, tidak bisa muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi.
2.Morfem utuh dan morfem terbagi
Semua morfem bebas yang dibicarakan di atas seperti meja, kursi, kecil, laut, dan lain-lain.daalah termasuk morfem terikat, begitu juga dengan sebagian morfem terikat seperti : ber, ter, henti, juang, dan lain-lain. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Seperti pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh yaitu (satu) dan satu morfem terbagi yaitu (ke/an), perbuatan, morfem utuh yaitu (buat) morfem terbagi yaitu (per/an).
3.Morfem Segmental dan morfem suprasegmental.
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk segmental, seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber), jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti, tekanan, nada, durasi, dazn sebagainya.
4.Morfem beralomorf zero
Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun unsure suprasegmental, melainkan sebuah kekosongan atau salah satu alomorf dari morfem yang dibentuk oleh morfem tidak bermakna leksikal.
5.Morfem bermakna lasikal dan morfem tidak bermakna klasikal
Morfem bermakna kasikal adalah morfem morfem yang secara intern telah memiliki makna pada dirinya sendiri tampa berproses udldu dengan morfem yang lain.sebaliknya morfem yang tidak bermakna klasikal tidak mempunyai makna apap-apa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru bermakna apabila digabung dengan morfem laindalam siatu proses morfologi, yang biasa dimaksud dengan morfem tidak bermakna klasikal ini adalah morfem-morfem afiks seperti : ber, me, dan tersebut.
b.Kata
Istilah kata sering kita dengar sering kita gunakan, para tatabahasa tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi, menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian.
Jenis kata dalam tatabahasa tradisional atau dalam bahasa inggris part of speak, bahasa belanda woordsoorten disebut dangan kelas kata.yang sama dalam analisis ini adalah bahwa tiap linguis atau ahli bahasa mengakui dari satu sistem dalam bahasa. Penggolongan kata dalam kelas kata tidak lain untuk menemukan sistem dalam bahasa tersebut.
Pengelompokan kelas kata sebuah bahasa pada umumnya dibagi dua tahap. Pertama klarifikasi primer dilakukan berdasarkan distribusi kata secara sintaksis dan frosal. Dalam hal ini kata-kata tersebut masih berada dalam keadaan sebagai morfem bebas atau morfem tunggal seperti: ayah, buku, kambing, dan sebagainya. Kedua, klarifikasi sekunder dilakukan berdasarkan distribusi dan frosal dalam bentuk kata kompleks, seperti: pemuda, gadis-gadis, bermain, melukai, dan sebagainya.
c.Morfemis
Diantara proses morfemis adalah:
•Afiksasi
Afiksasi adalah proses pertumbuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur, yaitu: dasar atau bentuk dasar, afiks dan makna gramatikal yang dihasilkan. Bentuk dasar yang menjadi dalam proses afiksasi adalah bentuk akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi misalnya meja, beli, sikat. Dapat juga berupa kompleks seperti terbelakang pada keterbelakangan, berlaku pada kata memberlakukan, aturan pada kata beraturan, dapat juga bersifat frase, seperti ikut serta pada kata keikutsertaan, tiba di Jakarta pada setiba di Jakarta.
•Reduplikasi
Reduplikasi Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan secara sebagian (parsial), mauoun dengan perubahan bunyi. Oleh karena itu, lazim dibedakan adanya reduplikasi penuh seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki) dan reduplikasi dengan perubahan bunyi seperti bolak-balik (dari dasar balik)
•Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru, komposisi terdapat dalam banyak bahasa misalnya: lalu lintas, daya juang.
•Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanda perubahan segmental, seperti kata cangkul adalah nomina dalam kalimat ayah membeli cangkul baru, tapi dalam kalimat cangkul dulu baik-baik tanah ini, baru ditanami adalah sebuah kata verba .
Modivikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.
•Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian laksem atau gabungan laksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya, contoh: lab (Laboratorium), hlm (halaman), dan lain-lain.
•Produktivitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, komposisi digunakan secara berulang-ulang secara relatif tak terbatas.
d.Morfofonemik
Morfofonemik disebut juga morfenemik, morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Jika dalam proses afiksasi bahasa Indonesia dengan prefiks me- akat terlihat bahwa prefiks me- itu akan berubah menjadi mem-, men-, atau tetap me- menurut aturan-aturan fonologis itu seperti dalam bentuk dasar yang konsonannya /b/ dan /p/ maka prefiks me- itu akan menjadi membeli (beli), memotong (potong).
D.Sintakasis
Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Salah satu satuan tuturan adalah kalimat. Kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. Sintaksis dalam bab ini dianggap menyangkut hubungan gramatikal antar kata di dalam kalimat.
Struktur sintaksis.
Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (s), predikat (p), objek (o), dan keterangan (k). menurut Verhaar fungsi-fungsi itu terdiri dari dari unsur-unsur S-P-O-K itu merupakan kotak-kotak kosong atau tempat-tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong tersebut akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu. Kita contoh kalimat:
Nenek melirik kakek tadi pagi.
Nenek = S, melirik = Pada, Kakek = O, tadi pagi = Karena
Tempat kosong bernama subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nomina, tempat kosong yang bernama predikat diisi oleh kata melirik yang berkategori nomina dan tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frase tadi pagi yang berkategori nomina.
Pengisi fungsi-fungsi itu yang berupa kategori sintaksis mempunyai peran-peran sintaksis. Kata nenek pada contoh di atas memiliki peran pelaku atau agentif, melirik memiliki peran aktif, kakek memiliki peran sasaran, dan tadi pagi memiliki peran waktu.
E.Semantik
Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Untuk permulaan barang kali kita ikuti saja pandangan Ferdinand de Saussure dengan teori tanda linguistiknya. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah “pengertian” atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic.
Semantic adalah cabang linguistic yang meneliti arti atau makna seperti sudah dicatat, semantic itu dibagi menjadi 2, 1. semantic gramatikal, 2. sematik leksikal.
•Makna leksikal
Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Contoh, leksem kuda memiliki makna seksikal sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.
•Makna gramatikal
Makna gramtikal batu ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi. Umpamanya Dalam proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal mengenakan atau memakai baju
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Bidang yang mendasari adalah bidang yang menyangkut struktur-struktur dasar tertentu, yaitu:
1.Struktur bunyi bahasa (Fonetik dan fonologi)
2.Struktur kata (Morfologi)
3.Struktur antar kata dalam kalimat (sintaksis)
4.Masalah arti atau makna (semantic)
Fonologi berasal dari kata Phon yang artinya bunyi, dan logi artinya ilmu Menurut werarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya
Morfologi adalah konstruksi-konstruksi yang disitu bentuk bentuk terikat terdapat di antara konstituen-konstituennya.
Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Salah satu satuan tuturan adalah kalimat. Kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. Sedangkan Semantic adalah cabang linguistic yang meneliti arti atau makna.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta; Rineka Cipta, 2003
Bloomfield, Leonard, Bahasa, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995
Jos Daniel paraie,morfologi bahasa,Jakarta : Gramedia Pustaka Utama 1994
W. M Verhoar, Asas-asas Linguistik, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995

Sumber: https://rumahmakalah.wordpress.com/2008/11/02/struktur-kajian-ilmu-jiwa-belajar-bahasa/