Selasa, 15 September 2015

Selamat Tinggal Masa Lalu

by Waode Utari T.R

Ini adalah rangkaian masa lalu yang pernah kualami. Setiap manusia pasti memiliki masa lalu. Percayalah, mungkin itu lebih pahit lagi. Kucoba menceritakan pengalaman terpahitku di masa laluku. Waktu itu, aku masih mengenakan seragam putih merah alias masih duduk di bangku SD. Aku sangat bodoh waktu itu, bodoh bukan berarti pernah tinggal kelas, tapi BODOH karena tidak tahu MATEMATIKA. 

Saat duduk di bangku kelas 4, aku sangat ANTI bin ALERGI dengan guru yang killer alias galak. Aku sangat malu bila teman-temanku belajar matematika dengan penuh semangat. Disisi lain, rasa semangatku belajar matematika sudah hampa, bahkan lenyap ditelan bumi. Pernah suatu hari, pelajaran matematika berlangsung. Aku mengerjakan latihan 10 nomor. Setelah kukerjakan, guruku pun memeriksa dan aku mendapat nilai 4. Rasanya malu dan semakin bodoh pada saat itu. 

Pulang sekolah kuhampiri ayahku. 
"Ayah, waktu sekolah Ayah pintar matematika nggak? Apakah Ayah pernah mendapat nilai 4?" 
Kala kutahu jawabannya, rasa malu itu semakin melekat-lekat dalam diriku. Keesokan harinya, aku belajar matematika lagi, aku ditanya oleh Ibu Guru, "8 X 7 = berapa?" Aku tidak menjawab pertanyaan beliau. Kala beliau menatapku lekat-lekat dan langsung mengatakan "jawabannya 56 Bodoh!" 

Aku sekolah hanya semakin bodoh, padahal kedua orang tuaku sangat cerdas. Ayahku yang berprofesi sebagai PEGAWAI NEGERI dan pendidikan terakhir beliau adalah MAGISTER (S2). Ibundaku yang berprofesi sebagai seorang GURU Taman kanak-kanak, tentunya beliau juga sangat cerdas dan kreatif. Tapi, kenapa anak yang beliau lahirkan dalam keadaan begini? Oh Tuhan, apakah ini mimpi? 

Beberapa hari kemudian, peristiwa memalukan itu terjadi lagi. Kala guruku menyuruhku menulis jawaban dari "9 X 9”. Aku diam dan tidak menjawabnya. Tiba-tiba saja, guruku mencubitku hingga berdarah dan membenturkan kepalaku di dinding. Aku menangis dan berlari tertatih-tatih menuju ke rumah. Dengan air mata terburai, aku pulang hanya untuk mengadu kepada Ayahku. 
Ku ungkapkan seluruhnya kepada Ayahku. Ayahku pun marah dan langsung bergegas ke sekolah. Beberapa hari pasca peristiwa memalukan itu, aku bersikeras tidak mau ke sekolah. Ingin rasanya ku mengurung diri di rumah karena malu bertemu sama teman-teman, guru-guru di sekolah. 
*** 
Ayahku mengambil kayu lalu memukul betisku hingga memar. Aku pun diseret dan dipaksa ke sekolah. Beliau mengantarku ke sekolah. Di jalan, jilbabku basah dipenuhi air mata. 
Beberapa bulan kemudian, penyerahan rapor pun tiba. Tibalah saatnya menanti libur panjang. Aku sangat berkecil hati karena hanya mendapat peringkat 2. Ayah dan Bundaku sangat senang tapi hatiku sangat sangat kecewa. Yah, biarlah semua ini berlalu. Kujadikan sebagai motivasi dan pengalaman, because experience is the best teacher. 
Aku tak mau kejadian seperti ini terulang kembali, aku ingin anak-anakku kelak tidak mengalami hal yang sama denganku. Aku harus bersikap lebih dewasa, berpikir jernih. Kulintasi semua dengan caraku sendiri, kujalani kelak bersama lelaki yang kusayangi. SELAMAT TINGGAL MASA LALU, SAYONARA, GOODBYE MY NIGHTMARE .